Baterai Nuklir Diklaim Tahan 50 Tahun, China Unggul dalam Pengembangan Energi Baru

AKURAT.CO Baterai nuklir mulai dilirik sebagai solusi keterbatasan daya perangkat digital. Teknologi ini diklaim mampu menghasilkan listrik selama puluhan tahun tanpa pengisian ulang.
Perusahaan Beijing, Betavolt New Energy Technology, memperkenalkan prototipe baterai berbasis energi atom. Baterai ini diklaim mampu bertahan hingga 50 tahun dalam ukuran ringkas, sebagaimana dikutip dari BGR, Sabtu (4/4/2026).
Baterai nuklir bekerja dengan memanfaatkan energi dari peluruhan isotop radioaktif. Dalam pengembangan Betavolt, isotop nikel-63 digunakan sebagai sumber energi, sementara semikonduktor berbasis berlian berfungsi mengubah energi tersebut menjadi listrik.
Pendekatan ini membuat pasokan daya dapat stabil tanpa pengisian ulang dalam jangka panjang. Jika dikomersialisasikan, teknologinya berpotensi dipakai dari Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) hingga sektor kedirgantaraan.
Tidak hanya China, perusahaan Amerika Serikat, Infinity Power, juga mengembangkan baterai nuklir dengan dukungan U.S. Department of Defense. Perangkat kecilnya diklaim mampu menghasilkan daya lebih dari 100 tahun.
Baca Juga: REDMI A7 Pro Dirilis di Indonesia, Tawarkan Baterai 6.000 mAh dan Layar 120Hz
Perusahaan tersebut menyebut efisiensi konversi energi yang dicapai menjadi salah satu yang tertinggi sejauh ini. Meski demikian, teknologi ini masih berada pada tahap pengembangan dan belum tersedia secara luas di pasar.
Betavolt New Energy Technology sempat menargetkan peluncuran baterai 1 watt pada 2025, namun belum ada pembaruan signifikan. Minimnya informasi menunjukkan transisi ke produk komersial masih menghadapi tantangan teknis dan produksi.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa klaim awal kemungkinan terlalu optimistis, mengingat kompleksitas pengembangan teknologi berbasis material radioaktif dan standar keamanannya.
Di luar baterai nuklir, riset teknologi penyimpanan energi terus berkembang. Baterai sulfur mulai dilirik sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibanding lithium-ion, sementara baterai termal juga menunjukkan potensi untuk aplikasi tertentu.
Tren ini menegaskan bahwa persaingan dalam inovasi baterai semakin intens, dengan China menjadi salah satu pemain paling agresif dalam pengembangan teknologi energi masa depan.
Baterai nuklir menawarkan perangkat yang nyaris tak pernah kehabisan daya. Namun, dalam waktu dekat, penggunaannya lebih realistis untuk sensor industri, medis dan luar angkasa ketimbang smartphone.
Jika hambatan keamanan, biaya, serta regulasi dapat diatasi, baterai nuklir bisa menjadi salah satu fondasi penting dalam transisi menuju perangkat berdaya tahan ekstrem. Namun untuk saat ini, revolusi tersebut masih berada di tahap awal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 4Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 7Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang



