Mantan CEO Twitter Pangkas Ribuan Karyawan Block karena AI

AKURAT.CO Block, perusahaan teknologi milik mantan CEO Twitter Jack Dorsey, kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar. Untuk pertama kalinya, perusahaan secara terbuka menyebut kecerdasan buatan (AI) sebagai alasan utama restrukturisasi.
Dalam surat kepada pemegang saham, Dorsey menyampaikan bahwa AI telah mengubah secara fundamental cara perusahaan dibangun dan dioperasikan.
Ia bahkan memperkirakan dalam satu tahun ke depan, banyak perusahaan lain akan melakukan langkah serupa.
"Dalam tahun depan, saya percaya mayoritas perusahaan akan mencapai kesimpulan yang sama dan membuat perubahan struktural yang serupa," tulisnya dalam sebuah surat kepada pemegang saham, dikutip dari BBC, Selasa (3/3/2026).
PHK terbaru ini membuat jumlah karyawan Block menyusut dari sekitar 10.000 menjadi kurang dari 6.000 orang. Meski sebelumnya perusahaan sudah beberapa kali memangkas tenaga kerja sejak 2024, baru kali ini AI dijadikan alasan utama.
Upaya Block sejalan dengan gelombang efisiensi di industri teknologi global. Amazon, Meta, Microsoft, hingga Google juga memangkas ribuan karyawan sambil meningkatkan investasi pada pengembangan AI.
CEO Meta Mark Zuckerberg bahkan memproyeksikan 2026 sebagai momen ketika AI secara drastis mengubah pola kerja. Ia menilai proyek yang dulu membutuhkan tim besar kini dapat diselesaikan oleh individu dengan dukungan AI.
Sejumlah perusahaan teknologi kini mengandalkan tools AI seperti Claude Code dari Anthropic dan Codex dari OpenAI. Perangkat ini mampu menghasilkan kode perangkat lunak secara otomatis.
Penggunaan AI tersebut membuat proses pengembangan produk jadi lebih cepat dan efisien. Namun, otomatisasi ini juga memunculkan kekhawatiran tentang masa depan tenaga kerja di sektor teknologi.
Di sisi lain, PHK di Block terjadi saat performa bisnis perusahaan sebenarnya sedang positif. Permintaan layanan meningkat dan laba tercatat tumbuh pada akhir tahun lalu.
Meski begitu, Block tetap menyiapkan dana hingga US$500 juta atau sekitar Rp8,4 triliun untuk biaya restrukturisasi. Saham perusahaan pun melonjak lebih dari 20 persen usai pengumuman, menandakan investor menyambut strategi AI ini dengan optimistis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara




