Akurat Logo

Mengenal Teknologi Bahan Bakar Padat Yang Digunakan Rudal Korut, Lebih Canggih Dari Sebelumnya?

Tia Nurullatifah | 13 Juli 2023, 15:10 WIB
Mengenal Teknologi Bahan Bakar Padat Yang Digunakan Rudal Korut, Lebih Canggih Dari Sebelumnya?

AKURAT.CO Intercontinental Ballistic Missile (ICBM) atau Rudal Balistik Antar-Benua, Hwasong-18, Korea Utara, yang diluncurkan untuk kedua kalinya pada Rabu (12/7/2023) diketahui menggunakan teknologi bahan bakar padat yang memberikan kemampuan untuk diluncurkan walau dengan sedikit persiapan.

Dikutip dari Reuters, Kamis (13/7/2023), berikut beberapa karakteristik teknologi bahan bakar padat serta bagaimana teknologi itu dapat membantu Korea Utara dalam meningkatkan sistem rudalnya.

Apa Itu Teknologi Bahan Bakar Padat?

Propelan atau bahan peledak padat merupakan campuran bahan bakar dan oksidator. Biasanya menggunakan bahan bakar yang terbuat dari serbuk logam seperti alumunium, dan amonium perklorat sejenis garam asam dan amonia sebagai oksidator yang paling umum digunakan.

Lalu, bahan bakar dan oksidator tersebut diikat bersama oleh bahan bakar karet yang keras dan dikemas dalam selubung logam.

Ketika bahan peledak padat terbakar, oksigen dari amonium perklorat yang bergabung dengan alumunium akan menghasilkan energi yang sangat besar dengan suhu lebih dari 5.000 derajat Fahrenheit (2.760 derajat Celcius), sehingga menciptakan daya dorong dan menembakkan rudal dari landasan peluncuran.

Siapa Pemilik Teknologi Bahan Bakar Padat Itu?

Dilansir Reuters, bahan peledak padat sudah ada sejak Cina mengembangkan kembang api berabad-abad lalu, namun mengalami kemajuan yang drastis pada pertengahan abad ke-20, ketika AS mengembangkan propelan yang lebih kuat.

Korea Utara lantas juga menggunakan bahan bakar padat untuk rundal balistik jarak pendeknya yang memiliki ukuran kecil.

Sebelum itu, Uni Soviet pernah meluncurkan ICBM berbahan bakar padat pertamanya yakni RT-2 pada awal 1970-an. Diikuti dengan pengembangan S3 yang, juga dikenal sebagai SSBS, rudal balistik jarak menengah oleh Prancis.

Cina mulai menguji coba ICBM berbahan bakar padat pada akhir 1990-an.

Tidak mau kalah, Korea Selatan juga mengatakan bahwa mereka telah mendapatkan teknologi rudal balistik berbahan bakar padat yang efisien dan canggih, meskipun sejauh ini masih menggunakan roket yang jauh lebih kecil.

Kelebihan Teknologi Bahan Bakar Padat Dibanding Cair

Bahan bakar propelan cair memberikan daya dorong dan tenaga yang lebih besar, namun membutuhkan teknologi yang lebih kompleks dan bobot yang lebih berat.

Sedangkan, bahan bakar padat akan terbakar cukup cepat, dengan menghasilkan daya dorong dalam waktu singkat. Bahkan, bahan bakar padat dapat disimpan dalam waktu lama tanpa mengalami degradasi atau kerusakan (masalah yang umum terjadi pada bahan bakar cair).

Vann Van Diepen, mantan ahli persenjataan pemerintah AS, yang sekarang bekerja dengan proyek 38 North, mengatakan bahwa rudal berbahan bakar padat lebih mudah dan lebih aman untuk dioperasikan dan membutuhkan lebih sedikit dukungan logistik, sehingga lebih sulit dideteksi dan lebih tahan lama dibandingkan dengan senjata berbahan bakar cair.

Ankit Panda, seorang peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace yang berbasis di AS, mengatakan bahwa negara mana pun yang mengoperasikan kekuatan nuklir berbasis rudal berskala besar akan mencari rudal berbahan bakar padat, yang tidak perlu diisi dengan bahan bakar sebelum diluncurkan.

"Kemampuan ini jauh lebih responsif pada saat krisis," kata Panda.

Korea Utara mengatakan bahwa pengembangan ICBM berbahan bakar padat barunya, Hwasong-18, akan "secara radikal meningkatkan" kemampuan serangan balik nuklirnya.

Setelah peluncuran pertama, Kementerian Pertahanan Korea Selatan berusaha meremehkan uji coba tersebut dengan mengatakan bahwa Korea Utara akan membutuhkan "waktu dan upaya ekstra" untuk menguasai teknologi tersebut.

Namun pada Kamis (13/7/2023), juru bicara kementerian mengatakan bahwa mereka masih menganalisis peluncuran terbaru tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.