Akurat Logo

Meta Investasikan Rp232 Triliun di Perusahaan AI Scale dan Rekrut CEO-nya untuk Tim Kecerdasan Super

Petrus C. Vianney | 17 Juni 2025, 20:20 WIB
Meta Investasikan Rp232 Triliun di Perusahaan AI Scale dan Rekrut CEO-nya untuk Tim Kecerdasan Super

AKURAT.CO Meta menginvestasikan dana besar senilai $14,3 miliar (sekitar Rp232 triliun) ke perusahaan AI Scale. CEO-nya, Alexandr Wang, turut direkrut untuk bergabung dengan tim 'kecerdasan super' Meta besutan Mark Zuckerberg.

Meski tetap berdiri independen, Scale akan memperluas kolaborasi komersialnya dengan Meta, yang kini memiliki 49 persen saham di perusahaan tersebut. Scale kini bernilai lebih dari $29 miliar (sekitar Rp472 triliun).

Alexandr Wang dan beberapa anggota tim Scale pindah ke Meta, namun ia tetap menjabat sebagai anggota dewan direksi Scale. Posisi CEO sementara kini dipegang Jason Droege, mantan eksekutif Uber Eats dan kepala strategi Scale.

Kebijakan ini menunjukkan pergeseran fokus Meta dari proyek metaverse ke pengembangan Artificial General Intelligence (AGI). Pergeseran ini terjadi seiring meningkatnya persaingan dengan Google, OpenAI dan Microsoft.

Meta mengikuti langkah para pesaingnya yang lebih dulu merekrut pakar dari startup AI. Microsoft menggandeng pendiri Inflection AI, sementara Amazon menjalin kerja sama dengan Adept.

Scale didirikan oleh Alexandr Wang dan Lucy Guo. Saat itu, Wang masih berusia 19 tahun, sebagaimana dikutip dari The Associated Press, Selasa (17/6/2025).

Perusahaan ini awalnya menyediakan tenaga manusia untuk membantu pelatihan sistem AI, seperti mengenali objek dalam foto guna mendukung teknologi mobil otonom. Pelanggannya termasuk General Motors dan Toyota.

Kini, Scale berkembang menjadi penyedia data pelatihan dan pengujian model bahasa besar (LLM) untuk OpenAI, Google, Meta, hingga Microsoft. Namun, belum jelas bagaimana kerja sama baru ini akan memengaruhi klien Scale lainnya.

Meta juga terus memperkuat hubungan dengan pemerintah AS, termasuk dalam proyek AI militer. Di sisi lain, perusahaan mengusung pendekatan berbeda dengan merilis sistem AI andalan Llama secara open source.

Meta mengklaim produknya digunakan lebih dari 1 miliar pengguna setiap bulan. Namun, perusahaan ini dinilai masih tertinggal dari OpenAI dan Google dalam pemanfaatan LLM.

Meta belum merilis Llama 4 Behemoth, model terbaru yang disebut sebagai salah satu LLM paling pintar di dunia. Namun, kepala ilmuwan AI Meta, Yann LeCun, masih meragukan kemampuan LLM dalam memahami dunia nyata.

LeCun menilai model AI masa depan harus bisa bernalar, memiliki memori jangka panjang dan memahami konteks fisik. Menurutnya, AI tidak boleh hanya mengandalkan pola bahasa semata.

Ia menegaskan bahwa Meta kini memiliki visi yang lebih jelas dalam mengembangkan AI. Visi tersebut ditujukan untuk menciptakan kecerdasan buatan yang setara atau bahkan melebihi manusia.

Divisi AI Meta telah ada selama lebih dari satu dekade. Baru-baru ini, Rob Fergus, salah satu pendirinya, kembali dari Google untuk menggantikan direktur sebelumnya, Joelle Pineau.

Fergus menegaskan bahwa Meta tetap berkomitmen pada riset AI jangka panjang. Tujuannya adalah membangun interaksi teknologi yang lebih manusiawi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.