Karhutla Berkepanjangan, Saatnya Gen Z Ambil Peran dalam Tobat Ekologis, Bukan Cuma FOMO!

AKURAT.CO Asap kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi persoalan yang mengganggu kehidupan masyarakat. Ketika kebakaran berlangsung berhari-hari, dampaknya bukan hanya terlihat dari kepulan asap yang memenuhi udara.
Aktivitas warga terganggu, kesehatan terancam, sekolah dapat terdampak, dan lingkungan kehilangan fungsi ekologisnya. Di tengah situasi seperti ini, generasi Z sebenarnya memiliki ruang yang besar untuk ikut mengambil peran.
Selama ini, isu lingkungan sering kali hadir di media sosial sebagai sesuatu yang sedang ramai dibicarakan. Ada istilah FOMO, fear of missing out, yaitu rasa takut tertinggal dari tren yang sedang berlangsung.
Tidak sedikit anak muda ikut mengunggah isu tertentu karena semua orang sedang membicarakannya. Persoalannya, kepedulian terhadap lingkungan jangan sampai berhenti pada unggahan, tagar, atau foto dengan latar bencana.
Dalam Islam, menjaga lingkungan bukan sekadar tren. Ia berkaitan dengan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Allah berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki.” (QS. Al-A’raf: 56).
Ayat tersebut memberikan pesan penting bahwa manusia tidak boleh memperlakukan alam secara semena-mena. Hutan, tanah, air, dan udara bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Semuanya merupakan bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
Karena itu, ketika karhutla terjadi secara berkepanjangan, respons masyarakat semestinya tidak hanya berhenti pada pertanyaan siapa yang harus disalahkan. Tentu, jika terdapat pelanggaran hukum atau kelalaian, persoalan tersebut harus ditangani melalui mekanisme hukum. Namun pada saat yang sama, masyarakat juga perlu membangun kesadaran ekologis agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Konsep yang bisa diperkenalkan kepada generasi muda adalah tobat ekologis. Istilah ini dapat dipahami sebagai perubahan sikap manusia setelah menyadari bahwa perilaku terhadap alam memiliki konsekuensi moral. Tobat tidak cukup hanya dengan merasa bersalah. Ia membutuhkan perubahan perilaku.
Bagi Gen Z, perubahan tersebut tidak harus selalu dimulai dengan tindakan besar. Mengurangi pemborosan, tidak membakar sampah sembarangan, menjaga ruang hijau, menggunakan sumber daya secara bijak, serta ikut menyebarkan informasi lingkungan yang benar merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting: jangan ikut menyebarkan informasi karhutla yang belum jelas kebenarannya. Di tengah bencana, informasi palsu dapat memperkeruh keadaan. Semangat membantu harus berjalan bersama sikap tabayyun.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibn Majah)
Prinsip tersebut sangat relevan dengan persoalan lingkungan. Tindakan yang menyebabkan kerusakan ekologis dan kemudian membahayakan masyarakat tidak dapat dianggap sebagai persoalan yang sepenuhnya pribadi. Ketika udara tercemar, masyarakat luas ikut merasakan dampaknya.
Gen Z juga memiliki kekuatan yang mungkin tidak dimiliki generasi sebelumnya: kemampuan membangun kesadaran melalui ruang digital. Media sosial dapat digunakan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya karhutla, menggalang bantuan bagi warga terdampak, mempromosikan perilaku ramah lingkungan, sekaligus mengawasi isu lingkungan secara kritis.
Tetapi jangan sampai kepedulian ekologis berubah menjadi FOMO. Hari ini ramai membicarakan karhutla, besok isu berganti dan perhatian ikut menghilang. Padahal hutan tidak pulih hanya karena sebuah isu viral.
Baca Juga: Sering Ghosting atau Di-Ghosting? Begini Cara Menjaga Hubungan yang Sehat dan Beradab dalam Islam
Tobat ekologis justru menuntut konsistensi. Ketika kamera berhenti merekam dan algoritma sudah berganti topik, kepedulian tetap harus berjalan.
Bagi Gen Z, menjaga lingkungan bukan berarti harus menjadi aktivis setiap hari. Cukup mulai dari pertanyaan sederhana: apakah gaya hidup saya ikut memperbaiki atau justru memperburuk lingkungan?
Sebab, menjadi generasi yang peduli bukan tentang siapa yang paling sering mengunggah kepedulian, tetapi siapa yang bersedia mengubah kebiasaan. Karhutla boleh menjadi berita hari ini, tetapi tanggung jawab menjaga bumi tidak boleh berhenti ketika beritanya sudah tidak lagi viral.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang





