Akurat Logo

Batasan Euforia Merayakan Kemenangan Sepak Bola dalam Islam

Lufaefi | 6 Oktober 2026, 11:00 WIB
Batasan Euforia Merayakan Kemenangan Sepak Bola dalam Islam
ilustrasi merayakan kemenangan sepak bola - istimewa

AKURAT.CO Kemenangan dalam pertandingan sepak bola sering disambut dengan euforia. Suporter turun ke jalan, menyanyikan yel-yel, mengibarkan bendera klub, menyalakan kembang api, hingga berkumpul bersama keluarga dan teman. Kegembiraan tersebut merupakan hal yang wajar selama tetap berada dalam batas yang tidak melanggar aturan agama dan merugikan orang lain.

Islam tidak melarang manusia bergembira. Bahkan, kegembiraan setelah memperoleh keberhasilan merupakan bagian dari sifat manusia. Namun, Islam juga mengajarkan agar kebahagiaan tidak berubah menjadi tindakan berlebihan yang menghilangkan kendali diri.

Salah satu prinsip yang dapat dijadikan pedoman adalah firman Allah SWT:

وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A'raf: 31).

Ayat tersebut memang berbicara dalam konteks makan dan minum, tetapi prinsip tidak berlebihan dapat menjadi pelajaran umum dalam kehidupan. Kegembiraan pun tetap perlu dikendalikan agar tidak menimbulkan mudarat.

Dalam merayakan kemenangan, batas pertama yang perlu dijaga adalah tidak meninggalkan kewajiban agama. Kemenangan sebuah klub tidak seharusnya membuat seseorang meninggalkan salat, mengabaikan kewajiban kepada keluarga, atau melalaikan pekerjaan dan tanggung jawab lainnya.

Baca Juga: Sorot Kemenangan Dramatis Garuda, Media Italia Puji Transformasi Sepak Bola Indonesia

Pertandingan hanyalah bagian dari hiburan dan olahraga. Karena itu, kedudukannya tidak boleh mengalahkan kewajiban yang memiliki nilai lebih utama dalam kehidupan seorang Muslim.

Batas berikutnya adalah menjaga lisan dan sikap terhadap suporter lawan. Kemenangan tidak memberikan alasan bagi seseorang untuk menghina, mencaci, merendahkan, atau memprovokasi pihak lain.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka.” (QS Al-Hujurat: 11).

Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan orang lain. Dalam konteks sepak bola, seorang suporter boleh merasa bangga dengan timnya, tetapi kebanggaan tersebut tidak harus diwujudkan dengan menghina tim atau pendukung lawan.

Euforia juga tidak boleh berubah menjadi kekerasan. Tawuran antarsuporter, perusakan fasilitas umum, pelemparan benda, atau tindakan yang membahayakan orang lain jelas tidak dapat dibenarkan hanya karena alasan merayakan kemenangan.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR Ibnu Majah).

Prinsip ini sangat relevan dalam perayaan olahraga. Kegembiraan seseorang tidak boleh dibayar dengan kerugian atau penderitaan orang lain.

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan minuman keras dan perjudian. Merayakan kemenangan dengan mabuk-mabukan atau taruhan hasil pertandingan tidak dapat dibenarkan dalam Islam.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.” (QS Al-Ma'idah: 90).

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi