Akurat Logo

Hukum Mengagumi Pemain Sepak Bola Secara Berlebihan dalam Islam

Lufaefi | 6 Oktober 2026, 10:30 WIB
Hukum Mengagumi Pemain Sepak Bola Secara Berlebihan dalam Islam
Pesepakbola Barcelona, Raphinha dan Lamine Yamal, di tengah pertandingan melawan Sevilla di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Sevilla, Spanyol, Minggu (20/9/2026). FC BARCELONA/Marc Graupera

AKURAT.CO Sepak bola bukan hanya olahraga. Bagi sebagian orang, pertandingan sepak bola telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka mengikuti perjalanan klub, mengoleksi jersey, mengetahui statistik pemain, hingga menjadikan seorang pemain sebagai idola.

Mengagumi kemampuan seorang pemain sepak bola pada dasarnya bukan sesuatu yang dilarang dalam Islam. Seseorang boleh mengapresiasi keterampilan, kerja keras, kedisiplinan, prestasi, maupun sikap sportif seorang atlet.

Namun, persoalan dapat muncul ketika kekaguman tersebut berubah menjadi sikap berlebihan hingga memengaruhi ibadah, perilaku, pengeluaran, bahkan cara seseorang memandang idolanya.

Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap seimbang dalam mencintai sesuatu.

Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’” (QS At-Taubah: 24).

Baca Juga: Prabowo Terima Presiden FIFA, Bahas Strategi Pengembangan Sepak Bola Indonesia

Ayat tersebut memberikan prinsip bahwa kecintaan kepada sesuatu tidak boleh menggeser kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam konteks penggemar sepak bola, persoalannya bukan sekadar apakah seseorang memiliki pemain favorit. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kekaguman tersebut sudah membuat seseorang melupakan kewajiban agama atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Misalnya, seseorang rela meninggalkan salat karena pertandingan atau menghabiskan waktu berlebihan untuk mengikuti aktivitas idolanya hingga mengabaikan kewajiban. Dalam kondisi seperti ini, persoalannya bukan lagi sekadar hobi, tetapi sudah menyangkut prioritas dalam kehidupan seorang Muslim.

Kekaguman juga perlu dijaga agar tidak berubah menjadi fanatisme buta. Seorang pemain tetaplah manusia yang dapat melakukan kesalahan. Karena itu, mengagumi prestasinya tidak berarti harus membenarkan seluruh perilakunya.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu.” (QS An-Nisa: 171).

Prinsip tidak berlebihan dapat menjadi pelajaran penting dalam mengelola kecintaan dan fanatisme. Dalam mendukung pemain atau klub, seorang Muslim tetap perlu menjaga akhlak, menghormati lawan, dan tidak menghina orang lain.

Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah pengeluaran. Membeli jersey, menonton pertandingan, atau memiliki merchandise sebagai bentuk hobi pada dasarnya tidak otomatis haram. Namun, jika pengeluaran tersebut dilakukan secara berlebihan sampai mengabaikan kebutuhan pokok, menimbulkan utang yang tidak perlu, atau membuat seseorang boros, maka perilaku tersebut perlu dievaluasi.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi