Akurat Logo

Bukan Cuma Soal Bau, Kasus Penumpang BAB di Transjakarta dalam Sudut Pandang Islam: Mengapa Adab Publik Itu Bagian dari Iman?

Lufaefi | 3 Oktober 2026, 12:00 WIB
Bukan Cuma Soal Bau, Kasus Penumpang BAB di Transjakarta dalam Sudut Pandang Islam: Mengapa Adab Publik Itu Bagian dari Iman?
Ilustrasi - Transjakarta

AKURAT.CO Kasus seorang penumpang yang diduga buang air besar (BAB) di dalam bus Transjakarta menjadi perhatian publik. Peristiwa tersebut bukan hanya menyangkut persoalan kebersihan dan kenyamanan, tetapi juga mengingatkan pentingnya adab ketika menggunakan fasilitas umum.

Dalam Islam, menjaga kebersihan merupakan bagian dari ajaran agama. Rasulullah SAW bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu separuh dari iman.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut menegaskan kedudukan kebersihan dalam kehidupan seorang Muslim. Meski demikian, kebersihan tidak hanya berkaitan dengan tubuh dan ibadah pribadi, tetapi juga tercermin dalam perilaku saat berada di ruang bersama.

Transportasi umum seperti bus Transjakarta merupakan fasilitas yang digunakan banyak orang dari berbagai latar belakang. Karena itu, setiap penumpang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan dan tidak melakukan tindakan yang mengganggu kenyamanan maupun keselamatan pengguna lainnya.

Baca Juga: Said Aqil Siroj Terima Wantimpres sebagai Pengabdian, Bukan Jabatan

Islam juga mengajarkan agar seseorang tidak menimbulkan bahaya atau gangguan bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah dan Malik)

Prinsip tersebut dapat menjadi landasan etika dalam menggunakan fasilitas publik. Tindakan yang membuat ruang bersama menjadi kotor, menimbulkan bau menyengat, atau mengganggu penumpang lain perlu dipandang sebagai persoalan tanggung jawab sosial, bukan sekadar urusan pribadi.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga memerintahkan manusia untuk menjaga kebersihan dan kesucian. Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 222:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Ayat ini berbicara tentang kesucian dalam konteks yang dijelaskan oleh ayat tersebut. Namun, nilai umum tentang pentingnya menjaga kebersihan juga menjadi bagian dari ajaran Islam yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Adab di ruang publik tidak berhenti pada menjaga kebersihan. Menghormati hak pengguna lain, mengikuti aturan, menggunakan fasilitas sesuai fungsinya, serta tidak meninggalkan sesuatu yang merugikan orang lain juga merupakan bentuk kepedulian sosial.

Dalam konteks ini, kasus penumpang BAB di dalam bus semestinya menjadi bahan refleksi bersama. Fasilitas umum bukan milik pribadi, sehingga penggunaannya menuntut kesadaran untuk menjaga hak dan kenyamanan orang lain.

Baca Juga: Nekat Rusak Fasilitas Umum demi Kejar Absen? Ini Ancaman Dosa Jariyah dalam Islam yang Jarang Disadari!

Di sisi lain, penanganan peristiwa semacam ini juga perlu dilakukan secara manusiawi. Kondisi kesehatan atau keadaan darurat seseorang perlu dipertimbangkan sebelum publik memberikan penilaian. Menjaga adab berarti tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menghindari penghinaan dan memastikan persoalan ditangani secara tepat.

Pada akhirnya, iman tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam perilaku sehari-hari. Menjaga kebersihan bus, menghormati sesama penumpang, dan tidak mengganggu ruang bersama merupakan wujud adab publik yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi