Akurat Logo

Hari Kesaktian Pancasila, Ini Relasi 5 Sila Pancasila dengan Islam

Lufaefi | 1 Oktober 2026, 12:00 WIB
Hari Kesaktian Pancasila, Ini Relasi 5 Sila Pancasila dengan Islam
Hari Lahir Pancasila - AI

AKURAT.CO Setiap 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini menjadi momentum untuk kembali melihat Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai nilai yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi umat Islam, muncul pertanyaan menarik: apakah nilai-nilai dalam lima sila Pancasila memiliki hubungan dengan ajaran Islam?

Pertanyaan tersebut telah lama menjadi bagian dari diskursus keislaman Indonesia. Sejumlah organisasi Islam besar, termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, berpandangan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Pancasila bukan agama dan bukan pula pengganti syariat, tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dapat ditemukan dalam prinsip-prinsip universal ajaran Islam.

Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, memiliki hubungan yang sangat dekat dengan konsep tauhid dalam Islam. Tauhid merupakan fondasi utama keimanan seorang Muslim, yakni keyakinan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, nilai ketuhanan dalam Pancasila dapat dibaca sebagai prinsip yang memberikan ruang bagi kehidupan beragama dalam masyarakat Indonesia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ikhlas ayat 1:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Artinya, “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.”

Sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, memiliki hubungan dengan ajaran Islam tentang keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia. Islam tidak membenarkan seseorang memperlakukan manusia lain secara sewenang-wenang hanya karena perbedaan agama, suku, status sosial, atau kelompok. Keadilan harus menjadi prinsip dalam hubungan sosial.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan dan menjadi saksi karena Allah.”

Sila ketiga, “Persatuan Indonesia”, juga memiliki titik temu dengan ajaran Islam tentang persaudaraan dan kehidupan bersama. Islam mengakui keberagaman manusia sebagai kenyataan sosial. Perbedaan suku, bangsa, dan kelompok tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan atau memecah masyarakat. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi ruang untuk membangun kerja sama.

Baca Juga: Viral Rumah Mewah di Lapas, Ancaman Dosa bagi Pemimpin yang Memanipulasi Fakta dan Menipu Rakyat Menurut Hadis

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Artinya, “Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Sila keempat, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”, memiliki hubungan dengan prinsip syura atau musyawarah dalam Islam. Keputusan yang menyangkut kepentingan bersama idealnya tidak dilakukan secara sewenang-wenang. Ada proses mendengar pendapat, mempertimbangkan kepentingan masyarakat, dan mencari keputusan yang membawa kemaslahatan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 38:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

Artinya, “Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”

Sementara itu, sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, memiliki hubungan yang kuat dengan prinsip keadilan dan kemaslahatan dalam Islam. Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga menuntut kepedulian terhadap kelompok yang lemah, distribusi yang adil, serta perlindungan terhadap hak manusia. Keadilan sosial menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang bermartabat.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 90:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

Artinya, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”

Relasi antara Pancasila dan Islam tersebut tidak berarti bahwa Pancasila adalah ajaran agama atau bahwa seluruh konsep Pancasila identik dengan syariat Islam. Relasinya lebih tepat dipahami pada tingkat nilai dan prinsip. Muhammadiyah, misalnya, memandang negara Pancasila sebagai hasil konsensus kebangsaan yang dapat menjadi ruang bagi umat Islam untuk mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan berbangsa.

Karena itu, Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan diwujudkan secara nyata. Bagi umat Islam, mengamalkan nilai tersebut dapat berjalan seiring dengan pengamalan ajaran agama selama keduanya ditempatkan secara tepat. Pancasila menjadi dasar kehidupan bernegara, sementara Islam menjadi sumber keyakinan dan nilai moral bagi umatnya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan lagi memperdebatkan apakah Pancasila dan Islam harus dipertentangkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana nilai keduanya benar-benar hadir dalam kehidupan sosial. Sebab ketuhanan tanpa kemanusiaan dapat kehilangan dimensi sosial, persatuan tanpa keadilan dapat menjadi slogan, dan demokrasi tanpa moral dapat kehilangan arah. Di titik inilah Pancasila dan nilai-nilai Islam dapat bertemu dalam satu ruang: membangun kehidupan Indonesia yang adil, damai, bermartabat, dan menghargai keberagaman.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi