Akurat Logo

Mantan Ketua Korps PMII Putri PB PMII Sentil Arief Rosyid soal Polemik Muktamar NU

Lufaefi | 31 Agustus 2026, 02:43 WIB
Mantan Ketua Korps PMII Putri PB PMII Sentil Arief Rosyid soal Polemik Muktamar NU
Maya Muizatul Lutfillah Mantan Ketua Korps PMII Putri PB PMII - NU Online

AKURAT.CO Polemik Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, turut mendapat sorotan dari mantan Ketua Korps PMII Putri PB PMII (KOPRI PB PMII) periode 2021–2023, Maya Muizatil Lutfillah.

Maya menanggapi pernyataan mantan Ketua Umum PB HMI periode 2013–2015, M. Arief Rosyid Hasan, yang sebelumnya menyebut bahwa “NU bukan milik Muhaimin Iskandar”.

Menurut Maya, NU tidak semestinya ditempatkan sebagai milik individu maupun kelompok tertentu. Organisasi yang lahir dari tradisi ulama dan pesantren itu, kata dia, merupakan rumah bersama yang orientasinya harus tetap berpijak pada kepentingan umat.

“Kalau masih ada orang yang berpandangan bahwa NU dapat diperlakukan seperti milik pribadi atau kelompok tertentu, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya cara pandangnya terhadap NU, tetapi juga niatnya ketika mengabdi untuk NU,” ujar Maya, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: Tok! KH Miftachul Akhyar Kembali Terpilih Jadi Rais Aam PBNU pada Muktamar ke-35 NU

Maya menilai mencintai NU berbeda dengan merasa memiliki NU. Menurutnya, kecintaan terhadap organisasi justru ditunjukkan dengan menjaga kehormatan, marwah, serta persatuan.

Sebaliknya, perasaan memiliki organisasi secara personal atau kelompok dinilai dapat mendorong seseorang memaksakan kepentingannya sendiri.

“NU bukan milik personal. NU juga bukan milik satu kelompok saja. NU bukan panggung yang bisa diklaim sebagai milik siapa pun,” tegasnya.

Maya juga mengingatkan nilai yang dikenal dalam tradisi pesantren, yakni al-Mar'u Ma'a Man Ahabah. Ia mengaitkan prinsip tersebut dengan pentingnya melihat siapa yang dicintai dan nilai apa yang diperjuangkan seseorang dalam kehidupan organisasi.

Karena itu, ia mengajak kader dan warga Nahdliyin menunjukkan kecintaan kepada NU melalui tindakan nyata, bukan sekadar klaim atau pernyataan.

Dalam pernyataannya, Maya juga menyampaikan pertanyaan reflektif kepada seluruh pihak yang ikut berbicara mengenai dinamika NU, termasuk Arief Rosyid.

“Ketika kita berbicara tentang NU, apakah yang sedang kita bela benar-benar NU dan kepentingan umat? Atau jangan-jangan kita sedang membela kepentingan diri sendiri dengan meminjam nama besar NU,” ujarnya.

Baca Juga: Jelang Muktamar NU, PMII Jabar Soroti Pertemuan Dedi Mulyadi dengan Syuriah NU

Menurut Maya, nama besar NU harus dijaga dan tidak digunakan sebagai kendaraan untuk membangun citra pribadi ataupun kepentingan politik tertentu.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Muktamar ke-35 NU tengah memasuki fase penting penentuan kepemimpinan organisasi periode 2026–2031. Dinamika muktamar sebelumnya juga diwarnai perbedaan pandangan dan aksi penyampaian aspirasi terkait proses pemilihan Ketua Umum PBNU.

Maya berharap perbedaan yang muncul tidak menggeser orientasi utama organisasi. Ia meminta seluruh elemen NU tetap mengedepankan etika organisasi, menghormati tradisi ulama, menjaga persatuan, dan menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan individu maupun kelompok.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi