Akurat Logo

Dzurriyah Hasan Gipo: Muktamar NU di Tambakberas Momentum Kembali ke Nilai Muassis

Lufaefi | 20 Agustus 2026, 10:40 WIB
Dzurriyah Hasan Gipo: Muktamar NU di Tambakberas Momentum Kembali ke Nilai Muassis
Logo Nahdlatul Ulama - X

AKURAT.CO Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 dinilai menjadi momentum bagi NU untuk kembali meneguhkan nilai-nilai yang diwariskan para muassis atau pendiri organisasi.

Ketua Yayasan Insan Keturunan Sagipoddin (IKSA), H Abd Wachid Zen, yang merupakan dzurriyah Hasan Gipo—Ketua Tanfidziyah PBNU pertama—menilai lokasi Muktamar ke-35 memiliki makna simbolik bagi perjalanan NU memasuki abad kedua.

“Sebagai ketua Yayasan IKSA (Insan Keturunan Sagipoddin), kami sangat berharap Muktamar ke-35 NU nanti betul-betul mewujudkan nilai-nilai organisasi yang diwariskan para muassis, termasuk H Hasan Gipo,” kata Zen di Surabaya, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, Muktamar ke-35 merupakan muktamar pertama pada Abad Kedua NU yang berlangsung pada 2026–2126. Karena itu, NU dinilai perlu melihat kembali perjalanan organisasi pada abad pertama, termasuk perannya dalam kehidupan kebangsaan.

Baca Juga: Jelang Muktamar ke-35 NU, PBNU Tinjau Lokasi dan Gelar Istighotsah Terbatas di Jombang

Zen menyebut NU pada abad kedua perlu memperkuat perannya sebagai penjaga peradaban bangsa dengan tetap merujuk pada keteladanan para pendiri.

Ia mencontohkan Hasan Gipo yang mendampingi KH Hasyim Asy’ari sebagai Ketua Umum PBNU selama sekitar sembilan tahun, sejak 1926 hingga 1934.

“Hasan Gipo sebagai petinggi PBNU itu betul-betul berkhidmah ke NU dan ulama. Beliau tidak sulit ditemui jamaah dan tidak mencari penghidupan di NU, apalagi niat mencari dukungan agar bisa duduk di pemerintahan,” ujarnya.

Zen yang juga menjabat Ketua II Pengurus Takmir Masjid Agung Sunan Ampel itu menyebut Hasan Gipo sebagai sosok yang mengedepankan ketulusan, kesederhanaan, dan pengabdian tanpa mengejar popularitas.

Jejak Hasan Gipo

Hasan Gipo memiliki nama asli Hasan Basri. Ia lahir di kawasan Sawahan Ampel, Surabaya, pada 1869. Nama Gipo berasal dari garis keluarganya, yakni keluarga besar Sagipoddin.

Dalam garis keturunan tersebut, Hasan Basri merupakan putra Abdullah, cucu Tarmidzi, dan cicit Sagipoddin atau Gipo.

Zen menyebut keluarga Gipo memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Ampel. Dari garis keluarga yang sama, Hasan Gipo juga disebut memiliki hubungan keluarga dengan KH Mas Mansur, salah satu tokoh Muhammadiyah.

Menurut Zen, Hasan Gipo berasal dari keluarga saudagar kaya yang memiliki sejumlah aktivitas perdagangan, antara lain ekspor palawija dan rempah, impor beras, ketan, serta pakaian. Keluarganya juga memiliki pergudangan di kawasan Kalimas dan sejumlah usaha di Surabaya.

Kekayaan tersebut, lanjutnya, turut digunakan untuk mendukung aktivitas pergerakan dan perjuangan NU.

Zen menyebut Hasan Gipo turut mendanai Komite Hijaz yang dikirim ke Arab Saudi untuk memperjuangkan keberlangsungan tradisi bermadzhab dan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Komite Hijaz kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam proses kelahiran NU.

Hasan Gipo juga disebut membantu KH Abdul Wahab Hasbullah membangun jaringan dengan sejumlah tokoh pergerakan di Surabaya.

“Hasan Gipo pula yang selalu mengantar Kiai Wahab menemui para aktivis pergerakan yang ada di Surabaya, seperti HOS Cokroaminoto dan dr Soetomo,” katanya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi