Orang Islam Indonesia yang Pertama Kali Naik Haji Ternyata dari Sunda, Perjalanan dari Indonesia ke Makkah sampai Berbulan-bulan!

AKURAT.CO Orang Islam Indonesia yang pertama kali naik haji banyak tidak diketahui oleh masyarakat Indonesia secara umum.
Sosok orang Islam Indonesia yang pertama kali naik haji tentu membuat penasaran siapapun. Pasalnya, prosesi haji dulu dengan sekrang sangat jauh perbedaannya.
Mengutip Islami.co, ibadah haji dahulu sangat susah dilaksanakan oleh orang Indonesia. Hal ini karena pada masa itu moda transportasi tidak semudah sekarang.
Oleh karena itu, hanya orang-orang tertentu yang bisa naik haji. Apalagi di Indonesia, jarak dari tanah air menuju tanah haram yang cukup jauh membuat beberapa orang pada masa lampau harus berpikir ulang jika ingin naik haji.
Baca Juga: Contoh 25 Judul Khutbah Jumat Bulan Dzul Qa'dah, Cocok untuk Mengisi Khutbah di Kampung Maupun Kota
Tentu jadi pertanyaan kita semua, siapa orang Islam Indonesia yang pertama kali naik haji?
Dalam sebuah naskah 'Carita Parahiyangan' (naskah kuno berbahasa Sunda) menuliskan bahwa orang pertama yang menunaikan ibadah haji adalah Bratalegawa, putra kedua Prabu Pangandiparamata Jayadewabrata (berkuasa tahun 1357-1371), penguasa Kerajaan Galuh, salah satu kerajaan Sunda. (Moh Rosyid, 2017).
Pendapat ini berbeda dengan versi M. Shaleh Putuhena yang menyatakan bahwa ibadah haji dilaksanakan sejak abad ke-16, juga dengan Martin van Bruinessen yang menyatakan ibadah haji telah dilaksanakan pada abad ke-17.
Menurut Martin van Bruinessen, model transportasi yang pertama kali digunakan adalah kapal layar, sebelum akhirnya berganti menjadi kapal api hingga akhirnya pesawat terbang seiring dengan perkembangan teknologi.
Pada masa ketika kapal layar menjadi moda transportasi utama untuk pergi ke tanah suci, umat Islam tidak hanya harus menempuh perjalanan panjang hingga berbulan-bulan, melainkan juga dihantui bahaya yang mengancam keselamatan. Mereka harus bertaruh nyawa demi berangkat haji. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
Van Bruinessen menjelaskan bahwa perjalanan menggunakan kapal layar sangat bergantung pada cuaca. Kapal layar yang digunakan pun bukan kapal layar khusus penumpang, tetapi kapal para pedagang yang berlabuh di Indonesia. Sehingga para calon jamaah haji seringkali berpindah-pindah dari satu kapal ke kapal yang lainnya.
Mereka yang berasal dari berbagai daerah akan berlayar menuju Aceh sebagai pelabuhan paling ujung di Indonesia. Di Aceh, mereka menantikan kapal yang menuju ke India sebelum akhirnya berpindah ke kapal yang menuju ke Yaman atau langsung ke Jeddah.
Baca Juga: Jadi Jemaah Haji Tertua se-Indonesia, Mbah Harjo Pernah Perang Lawan Belanda dengan 'Pentungan'
Selama pelayaran yang panjang itu, seringkali kapal layar yang ditumpangi harus berhadapan dengan cuaca buruk, tidak sedikit kapal yang pada akhirnya tenggelam bersama para penumpangnya, mereka yang selamat biasanya terdampar di pulau yang asing.
Bahaya lainnya yang dapat mengancam adalah para bajak laut yang berada di perairan sepanjang rute pelayaran, mereka akan merampas harta para calon jamaah haji, bahkan tak jarang awak kapal juga melakukan hal yang sama.
Masih menurut penjelasan van Bruinessen, dalam rentang tahun 1853 hingga 1858, pemerintah kolonial Belanda mencatat bahwa jumlah orang yang kembali ke tanah air tidak sampai separuh dari jumlah orang yang berangkat. Selisih yang cukup banyak tersebut juga disebabkan adanya jamaah haji yang memilih menetap di Mekkah, namun jumlah korban yang meninggal di perjalanan juga tidak sedikit.
Sejak dibukanya terusan Suez pada tahun 1869, jumlah kapal yang berlayar ke Indonesia meningkat, hal ini membuat perjalanan haji lebih cepat, karena para calon jamaah haji tidak perlu menunggu kapal yang akan ditumpangi terlalu lama.
Setelah itu, mulai ada kapal layar khusus pengangkut jamaah haji, ini tentu sangat membantu. Hanya saja, perusahaan yang mengoperasikan kapal seringkali tidak memerhatikan kesejahteraan penumpangnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah






