Dikenalkan Sunan Kalijaga, Ini 5 Fakta Menarik Lebaran Ketupat

AKURAT.CO, Satu minggu setelah Idulfitri, sejumlah masyarakat muslim Indonesia masih akan merayakan Lebaran yang dinamakan Lebaran Ketupat. Perayaan yang merupakan tradisi Lebaran masyarakat Jawa ini telah digelar secara turun temurun.
Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta menarik terkait Lebaran Ketupat.
1. Sudah ada sejak ratusan tahun lalu
Kemampuan manusia membuat anyaman sebagai wadah telah ditemukan jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Kemampuan tersebut juga berpengaruh kepada pembuatan anyaman yang kemudian digunakan untuk menyimpan ketupat. Hal tersebut sangat wajar, karena dengan ketupat, makanan bisa disimpan lebih lama sebagai bekal untuk berlayar atau bepergian jauh.
2. Diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga
Sedangkan Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai salah satu tradisi untuk membantu menyebarkan agama Islam. Dalam menyebarluaskannya, Sunan Kalijaga mengenalkan dua istilah yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Dalam bahasa Jawa, Bakda memiliki arti setelah atau sesudah.
3. Berbeda makna
Bakda Lebaran adalah masa di mana umat muslim saling memaafkan yang dimulai pada Hari H Lebaran atau pada tanggal 1 Syawal. Sedangkan Bakda Kupat dirayakan pada satu minggu setelah Lebaran. Ketika Bakda Kupat atau Lebaran Ketupat tiba, muslim Jawa membawa ketupat ke kerabat yang lebih tua sebagai simbol kebersamaan dan kasih sayang.
4. Merupakan singkatan
Selain itu, dalam bahasa Jawa, ketupat adalah kupat. Dalam hal ini, kupat adalah singkatan dari ngaku lepat atau mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Sedangkan bentuk ketupat yang dibungkus menggunakan janur juga memiliki arti lain. Penggunaan Janur adalah berasal dari jaa nurun di mana artinya adalah datangnya cahaya Islam.
5. Berasal dari pemujaan Dewi Sri
Sedangkan versi lain Lebaran Ketupat adala akulturasi dan pengubahan makna dari tradisi pemujaan Dewi Pertanian dan Kesuburan, Dewi Sri. Sebelum Islam masuk, Dewi Sri dianggap sebagai pelindung kelahiran, kekayaan, kemakmuran dan kehidupan. Tradisi ini kemudian hanya dijadikan sebagai simbol belaka dan digantikan dengan bentuk kupat ketika ajaran Islam masuk ke Indonesia, terutama ke Jawa.
Tradisi ini hingga kini adalah salah satu budaya keislaman yang tumbuh subur di masyarakat Jawa. Tujuan utamanya adalah sebagai simbol dari langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik serta ucapan syukur kepada Tuhan.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi

