Gimmick Politik Kampanye Menurut Islam: Hindari Pencitraan yang Identik dengan Kemunafikan

AKURAT.CO, Gimmick berjoget yang dilakukan Capres nomor urut dua, Prabowo Subianto, menarik banyak pendapat pro-kontra dari masyarakat, baik yang menanggapinya dengan cibiran maupun dukungan.
Meski sebatas aksi hiburan semata, namun tak jarang yang menganggap gimik berjoget ini sebagai salah satu strategi kampanye politik Prabowo-Gibran untuk menarik perhatian generasi muda. Melihat hal ini, bagaimana gimik politik dalam kampanye diatur dalam sudut pandang Islam?
Pada dasarnya, gimik merupakan sebuah sikap yang ditujukan untuk menarik perhatian orang lain. Dalam hal ini, gimik dalam kampanye politik diartikan sebagai sebuah aksi yang dilakukan seorang politisi untuk menarik suara dan perhatian masyarakat pada suatu masa kampanye.
Dalam pelaksanaannya, gimik politik dapat berupa aksi hiburan yang menarik perhatian masyarakat semata, namun dapat pula berbentuk pencitraan politisi untuk membentuk persona tertentu di hadapan publik yang belum tentu sesuai dengan sifat dan realita aslinya.
Contohnya, seorang politisi membagikan bantuan sembako kepada masyarakat kurang mampu hanya karena tengah menjalani masa kampanye. Atau calon politisi yang kerap berjanji manis pada pendukungnya, namun saat terpilih mengingkari perkataan-perkataan lamanya.
Berdasarkan hal tersebut, gimik politik kerap dilakukan sebagai bentuk pencitraan semata. Hal ini sama dengan perilaku orang munafik, yakni seseorang yang tidak menepati perkataan atau berbeda antara ucapan dan perilakunya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ حَتَّى يَسُودَ كُلَّ قَبِيلَةٍ مُنَافِقُوهَا» فَلِذَلِكَ اشْتَهَيْتُ أَنْ نَمُوتَ قَبْلَ ذَلِكَ الزَّمَانِ.
Artinya: “Dari Ibnu Mas'ud RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga orang-orang munafik diangkat menjadi pemimpin pada setiap kabilah. Oleh karena itu, aku lebih menginginkan kematian sebelum waktu itu tiba.” (HR. Thabrani dan Musnad al-Bazzar).
Berdasarkan penjelasan tersebut, Islam memandang sikap munafik sebagai ancaman besar bagi suatu pemerintahan. Maka pencitraan yang mengandung kemunafikkan dan kebohongan harus ditinggalkan, termasuk dalam dunia politik.
Baca Juga: Larangan Membunuh dalam Islam, Yuk Pahami di Saat Banyak Kejahatan Ini Terjadi
Meski begitu, gimik politik kerap dianggap sebagai alat marketing atau pemasaran politik yang ampuh menarik perhatian berbagai kalangan masyarakat, termasuk menarik suara anak-anak muda yang buta akan politik, sehingga semakin gandrung diterapkan dalam masa kampanye.
Maka, seorang pemimpin muslim harus meninggalkan sikap pencitraan dalam gimik politik yang mengandung kemunafikkan dan bersifat pembohongan publik, serta sebagai pemilih muslim harus pintar melihat calon pemimpin yang berwibawa dan sesuai dengan dirinya apa adanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







