Akurat Logo

ACTO–ASPI 2026: Pakar Asia Dorong Percepatan Terapi Sel di Indonesia

Herry Supriyatna | 26 Agustus 2026, 11:22 WIB
ACTO–ASPI 2026: Pakar Asia Dorong Percepatan Terapi Sel di Indonesia
Konferensi pers acara ACTO–ASPI 2026, atau 17th Annual Meeting of the Asian Cellular Therapy Organization (ACTO) yang digelar bersama Indonesian Stem Cell Association (ASPI) di Jakarta, 26–28 Agustus 2026.

AKURAT.CO Indonesia tengah mempercepat pengembangan terapi berbasis sel (stem cell) agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan sebagai layanan kesehatan yang aman, efektif, dan terjangkau bagi masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam ACTO–ASPI 2026, atau 17th Annual Meeting of the Asian Cellular Therapy Organization (ACTO) yang digelar bersama Indonesian Stem Cell Association (ASPI) di Jakarta, 26–28 Agustus 2026.

Forum tersebut mempertemukan peneliti, klinisi, ilmuwan, pelaku industri, serta regulator untuk membahas perkembangan terapi sel, pengobatan regeneratif, riset translasi, hingga regulasi terapi berbasis sel di kawasan Asia-Pasifik.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalusia, mengatakan, perkembangan terapi stem cell di Indonesia berlangsung pesat.

Pengembangannya tidak hanya menyasar penyakit yang belum memiliki alternatif terapi, tetapi juga mulai diarahkan pada penyakit degeneratif dan terapi regeneratif.

Menurut Rizka, Indonesia terus melakukan benchmarking dengan negara lain untuk memperkuat regulasi sekaligus memastikan terapi berbasis sel memenuhi standar keamanan dan efektivitas.

"Indonesia sendiri sudah sangat pesat perkembangan untuk terapi stem cell ini. Baik itu yang dilakukan untuk penyakit-penyakit yang tidak ada alternatif pengobatannya maupun yang untuk sekarang kita juga berkembang terapi stem cell ke arah yang degeneratif, untuk perbaikan stem cell, regeneratif stem cell dan sebagainya," kata Rizka di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Ia menyebut Jepang menjadi salah satu negara Asia yang perkembangan teknologi terapi selnya lebih maju. Karena itu, kolaborasi internasional dinilai penting untuk mempercepat kemampuan peneliti dan klinisi Indonesia.

"Makanya dengan kolaborasi di ACTO ini kita harapkan peneliti Indonesia, klinisi Indonesia juga memiliki kecepatan untuk pengembangan terapi stem cell ini setara dengan negara-negara maju seperti Jepang kalau di Asia," ujarnya.

Rizka mengatakan, tantangan terbesar pengembangan terapi stem cell bukan hanya menghasilkan temuan ilmiah, tetapi menerjemahkan hasil riset tersebut menjadi layanan kesehatan yang dapat digunakan pasien.

Ada dua aspek utama yang harus dipenuhi, yakni keamanan dan efektivitas. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan terapi tersebut dapat dijangkau masyarakat luas.

"Tantangan terbesar pertama tentunya adalah bagaimana kita mentranslasikan dari riset menjadi pelayanan kesehatan. Kalau kita mau memasukkan ke dalam pelayanan kesehatan atau terapi di pelayanan kesehatan ini tentunya pertama safety dan efficacy harus terbukti," jelasnya.

Menurut Rizka, aspek keterjangkauan juga tidak kalah penting. Jangan sampai terapi berbasis sel hanya dapat dinikmati kelompok masyarakat tertentu karena biaya yang terlalu tinggi.

"Jangan sampai nanti terapi stem cell ini hanya untuk masyarakat kelas atas saja yang tidak bisa dijangkau untuk masyarakat banyak," tegasnya.

Ia mengatakan pengembangan terapi sel ke depan perlu diarahkan pada penyakit dengan beban tinggi di Indonesia dan masih memiliki kebutuhan medis yang belum terpenuhi (unmet medical needs), seperti kanker, penyakit jantung, dan stroke.

Baca Juga: PSI Tegaskan Budi Arie Bukan Bagian dari Partai: Jangan Mengadu Domba Prabowo dan Jokowi

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.