AKURAT.CO, Generasi Z atau lebih akrab dengan sapaan Gen Z merupakan orang yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Gen Z adalah generasi setelah Generasi Milenial, generasi ini merupakan generasi peralihan Generasi Milenial dengan teknologi yang semakin berkembang.
Saat ini, Gen Z sudah masuk dalam kategori usia produktif. Sayangnya, di tengah proses kreatifnya, Gen Z lebih rentan terserang masalah mental.
Tara de Thouars, seorang psikolog klinis, mengungkapkan alasan mengapa Gen Z rentan mengalami masalah mental.
Menurutnya, Gen Z terlalu banyak mendapatkan tekanan baik dari diri sendiri maupun orang lain, ditambah lagi dengan paparan dari teknologi.
Dengan berkembangnya teknologi, Gen Z bisa mudah menerima motivasi agar bisa sukses seperti orang lain, tetapi tidak sedikit Gen Z yang terdampak masalah mental lantaran tidak bisa meraih kesuksesan seperti orang yang mereka lihat.
"Gen Z punya risiko yang paling tinggi mengalami masalah mental terutama depresi dan gangguan kecemasan karena melihat tidak dirinya mereka saja, mereka selalu melihat diri mereka dibandingkan dengan orang lain," kata Tara de Thouars saat ditemui dalam acara yang diadakan Greenfields di Taman Literasi, Jakarta Selatan baru-baru ini.
"Kayak kita mainan socmed deh, kita ngeliat kayaknya 'orang itu keren ya tapi kok aku nggak kayak dia, atau kok bisa ya dia masih muda tapi sukses banget, kok aku nggak'. Sosial media itu memiliki pengaruh besar Gen Z dengan generasi sebelumnya yang berdampak ke masalah mental," tambahnya.
Tara pun mengungkapkan bahwa, banyak hal yang bisa dilakukan oleh Gen Z agar tidak terpapar masalah mental, terutama saat bersosial media.
"Ketika kita bersosial media penting untuk punya kekuatan mental ke diri sendiri, untuk tidak membandingkan, untuk bisa melihat diri kita dari aspek-aspek positif," tuturnya.
Ia mengatakan bahwa Gen Z harus mengetahui potensi diri sebelum membandingkan dengan orang lain.
Dengan mengetahui potensi diri, Gen Z akan lebih mudah menempatkan minat dan tujuannya sehingga tidak perlu bertolak ukur dari orang lain.
"Itu sebabnya penting bagi Gen Z untuk tidak hanya membandingkan, tetapi perlu tahu minatnya apa, potensiku apa, kekuatanku apa sehingga ketika dia bersosial media itu nggak membuat mereka jadi kurang, merasa jadi kecil," tutup Tara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 5Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 6Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja




