Pentingnya Deteksi Dini Kanker Prostat dengan Tes PSA di Tengah Pandemi

AKURAT.CO Perlahan, kita mulai hidup berdampingan dengan pandemi Covid-19. Namun, apabila dilihat dari perspektif makro terhadap sistem infrastruktur kesehatan, kondisi saat ini bisa jadi melalaikan pengobatan penyakit kronis lainnya yang juga dapat mengancam negeri ini di masa depan.
Sayangnya, hasil riset dari American Society of Clinical Oncology menemukan bahwa perawatan untuk pria dengan kanker prostat telah menurun secara tajam selama pandemi Covid-19.
Berdasarkan American Institute for Cancer Research, kanker prostat adalah kanker kedua yang paling umum terjadi pada pria di dunia. Kanker prostat kebanyakan terjadi pada pria usia 60 tahun ke atas. Namun, telah terjadi peningkatan terhadap kasus kanker prostat yang terjadi lebih cepat pada pria usia 15 - 40 tahun.
Menurut Global Cancer Statistics menunjukkan bahwa kanker prostat adalah kanker kelima yang paling umum terjadi pada pria di Indonesia, dengan jumlah kasus baru sebanyak 13.563 pada 2020.
Sebagaimana juga dilansir dari data International Agency for Research on Cancer dari World Health Organization (WHO). Terlepas dari tingginya angka kasus kanker prostat pada pria di Indonesia, 70% pria yang terdiagnosa dengan kanker prostat baru mencari pengobatan medis ketika sudah terlambat
"Pada momentum bulan kesadaran kesehatan pria tahun ini, seyogianya kita tidak lupa bahwa ini adalah momentum yang tepat bagi kita semua untuk mulai memahami dan meningkatkan kesadaran terhadap kanker prostat kepada orang-orang terkasih – suami, ayah, kakek, dan bahkan para generasi muda," ujar Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI), Soehartati Argadikosoema Gondhowiardjo melalui keterangan pers, dikutip pada Sabtu (20/11).
Seperti diketahui, kanker prostat adalah suatu jenis kanker yang berkembang di area kelenjar prostat. Kanker prostat mulai muncul ketika sel-sel yang berada di dalam kelenjar prostat tumbuh di luar kendali. Kelenjar prostat hanya ditemukan pada pria. Kelenjar tersebut memproduksi cairan yang merupakan bagian dari air mani.
Ada beberapa jenis kanker prostat, misalnya adenocarcinomas, sel carcinomas kecil, tumor neuroendocrine, sel transisi carcinomas, dan sarcomas.
"Kebanyakan kasus kanker prostat berasal dari jenis adenocarcinomas, sementara jenis lainnya cenderung langka," katanya.
"Terlepas dari tingginya tingkat kecenderungan terjadinya kanker prostat pada pria secara global, para peneliti tidak mengetahui secara pasti apa penyebab dari kanker prostat. Namun, beberapa faktor risiko telah diidentifikasi, misalnya mutasi gen, ras, dan pola diet," sambungnya.
Soehartati juga mengatakan, apabila seseorang memiliki sejarah kanker prostat dalam keluarga, maka ada kemungkinan besar seseorang memiliki gen yang dapat mengakibatkan kanker prostat.
Melihat kompleksitas dari potensi faktor penyebab kanker prostat, apa yang seharusnya kita lakukan?
"Dalam hal gejala-gejala yang dapat muncul, banyak kasus kanker prostat yang tidak bergejala, khususnya selama stadium awal. Karena tidak dapat dideteksi dini berdasarkan gejala atau keluhan yang dialami, penting bagi setiap pria untuk mengerti bahwa menemukan kanker prostat sedini mungkin, dapat secara signifikan membantu mereka untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik," ucapnya.
"Deteksi terhadap kanker prostat dapat bervariasi. Secara umum, diskusi dengan dokter mengenai skrining kanker prostat seharusnya dimulai pada usia 40 tahun. Prostate Specific Antigen (PSA) adalah jenis tes deteksi kanker prostat yang paling unggul digunakan," tambahnya.
Menurut Soehartati, tes PSA mengukur level antigen spesifik prostat dalam darah. Karena sel kanker cenderung memproduksi PSA lebih banyak, sehingga adanya lonjakan dalam level PSA seseorang mungkin menandakan adanya masalah.
"Untuk tujuan pencegahan dan tindakan awal, melacak level PSA dari waktu ke waktu dapat membantu kita membedakan antara peningkatan sementara dengan peningkatan yang bertahap, namun terus menerus," terangnya
"Untuk perawatan, tergantung pada masing-masing kasus, pasien mungkin membutuhkan jenis perawatan yang berbeda-beda. Biasanya, ahli kesehatan akan mempertimbangkan beberapa faktor dan kondisi sebelum memberikan opsi pengobatan yang terbaik, misalnya seberapa besar ukuran tumor pada pasien dan seberapa jauh tumor telah menyebar, seberapa cepat kemungkinan tumor bertumbuh, usia pasien dan seberapa sehat pasien tersebut, serta preferensi pribadi dari pasien itu sendiri," imbuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 6Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 7Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 8Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 9Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara
- 10Peluang Gibran di Pilpres 2029 Tetap Terbuka Lebar Meski Lawan Politik Terus Bermanuver




