Perempuan Disabilitas Rentan Mengalami Pelecehan Seksual Melalui Teknologi

AKURAT.CO Sebuah penelitian terbaru dari Queensland University of Technology, Australia, menunjukkan bahwa perempuan dengan disabilitas kognitif dan intelektual, rentan mengalami pelecehan dan kekerasan seksual melalui teknologi.
Riset tersebut mengungkap bahwa ada beberapa kasus pelecehan seksual dan kekerasan seksual yang menggunakan teknologi, seperti perekam suara, gambar, ponsel, media sosial, hingga GPS yang terpasang di tempat tinggal tanpa diketahui pemiliknya yang merupakan perempuan disabalitas atau milik keluarga dengan anggota keluarga perempuan seorang disabilitas.
Kepala Peneliti dari Queensland University of Technology, Profesor Bridget Harris, mengatakan bahwa para peneliti menemukan alat penyadap suara pada kursi roda, kamera tersembunyi di sebuah rumah perawatan, hingga perekaman gambar tubuh oleh care giver atau pendamping.
"Semua peralatan ini digunakan untuk memata-matai dan pada akhirnya mengendalikan perempuan disabilitas," ujar Harris dikutip dari ABC News, pada Selasa (07/9).
Para peneliti mendapatkan informasi tersebut langsung dari perempuan penyandang disabilitas intelektual dan pendamping mereka. Beberapa modus lain yang dilakukan oleh pelaku kekerasan adalah mengontrol lampu di rumah dari jarak jauh, mengancam dengan mengungkapkan informasi pribadi di, sampai merusak alat bantu dengar milik perempuan penyandang disabilitas.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pencegahan Kekerasan Seksual di Brisbane, Australia WWILD, yakni Gillian O'Brien mengatakan, modus pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan terhadap perempuan dengan disabilitas adalah pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gambar.
Kekerasan ini banyak dilakukan oleh pasangan, mantan pasangan dan orang asing pengguna media sosial untuk berkomunikasi online seperti WhatsApp atau Snapchat.
"Terdapat banyak tekanan dari pasangan, mantan pasangan, orang asing, serta predator perempuan melalui platform media sosial," kata Gillian O'Brien dari sumber kutipan yang sama.
"Para penjahat ini kemudian memaksa mereka untuk mengirim gambar atau video intim diri sendiri, ke para predator itu," sambungnya
Lantaran banyaknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan difabilitas, Queensland University of Technology menggandeng WWILD untuk menerbitkan panduan bagi perempuan disabilitas mengenai tindakan apa saja yang termasuk kekerasan dan pelecehan seksual.
Panduan ini bertujuan melindungi perempuan disabilitas dan memberi alarm pengingat bagi mereka untuk melapor, bila mengalami indikasi pelecehan dan kekerasan secara seksual.
Sebagai informasi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA), Bintang Puspayoga juga mengimbau agar masyarakat tidak segan untuk melaporkan langsung segala bentuk kekerasan terhadap perempuan terutama perempuan disabilitas, kepada Kemen PPPA melalui pengaduan masyarakat Kemen PPPA ke nomor HP 082125751234 dan akun sosial media Kemen PPPA.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK


