Akurat Logo

Pasangan Penderita Talasemia Tak Dianjurkan Hamil? Simak Ini

Khaerul S | 21 Mei 2019, 14:25 WIB
Pasangan Penderita Talasemia Tak Dianjurkan Hamil? Simak Ini

AKURAT.CO Penyakit Talasemia merupakan penyakit kelainan darah yang diturunkan dari kedua orangtua. Penyakit ini disebabkan karena berkurangnya atau tidak terbentuknya protein pembentuk hemoglobin utama manusia. Hal ini mengakibatkan sel darah merah mudah pecah dan menyebabkan pasien menjadi kurang darah atau anemia.

Lalu, bagaimana penderita Talasemia ketika memasuki fase kehamilan? Anemia saat kehamilan saja tidak boleh terjadi pada masa kehamilan lantaran membahayakan ibu maupun si janin. Bagaimana dengan Talasemia di kalangan ibu hamil. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Dr. dr. Tubagus Djumhana Atmakusuma, Sp.PD- KHOM, akan menjelaskannya untuk Anda.

"Kalau pasien Talasemia ketemu pasangannya yang normal sih enggak apa-apa. Yang jadi masalah kalau sama-sama penderita Talasemia, apalagi kalau dua-duanya Talasemia Minor yang tidak bergejala, yang sering ditemukan dirinya tidak mengetahui mengidap Talasemia," katanya kepada AkuratHealth di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin ( 20/5).

"Ketika pasangan sama-sama Talasemia, sangat berisiko memiliki keturunan yang juga Talasemia. Bahkan anak bisa menjadi Talasemia Mayor yang bergantung pada transfusi darah seumur hidup, ini yang menjadi masalah besarnya," tambahnya.

Penting untuk orang tua yang memiliki riwayat Talasemia di keluarganya, melakukan screening ketat ketika memustuskan untuk menjalani kehamilan. Orangtua harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu supaya jenis mutasinya diketahui. Jika keduanya positif Talasemia, maka akan ada opsi penghentian kehamilan.

"Prosedur standartnya pengambilan jaringan plasenta pada usia kehamilan kurang lebih 10 minggu. Kenapa opsi ini hadir, karena jika diteruskan janin sangat berisiko besar akan menderita, maka penindakan lanjutannya adalah penghentian kehamilan," ujarnya.

Menurutnya, jika dipaksakan, anak yang terlahir Talasemia Mayor, sangat berisiko berakhir pada kematian, jika bayi tidak melakukan tranfusi darah. Dirinya mengaku, banyak menemukan orangtua yang menangis, melihat anaknya yang masih sangat kecil disuntikin terus untuk melakukan tranfusi darah, dan itu akan terus berlangsung dari mulai bayi melihat dunia, sampai seumur hidupnya.

"Tak selesai disitu saja, tranfusi darah kalau dapat bagus, akan normal, tapi kalau gak bagus, bisa bikin si anak menjadi kate, stunting, kulit menggelap, lemes, dan lainnya yang akan menurunkan percaya diri, akan mengganggu harapan untuk seorang anak menjadi sukses juga," jelasnya.

"Jadi memang sangat berisiko pernikahan antara pasien Talasemia, itu gunanya screning sedini mungkin, ketika mengetahui positif Talasemia, bisa mencari pasangan yang normal, 90 persen kok kemungkinanya kalau dilihat dari data, pasien Talasemia bisa mendapatkan pasangan normal. Yang susah kan kalau baru tau mengidap Talasemia ketika sudah punya calon pasangan, sudah cinta, sulit kan kalau harus dipisahkan," lanjutnya.

Dokter Tubagus juga menyampaikan, orangtua yang sudah memahami dengan baik risiko akibat pernikahan sesama pasien Talasemia. Biasanya orangtua akan memilih untuk tidak memiliki anak, atau memilih adopsi anak, hingga mencari ibu biologis. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Khaerul S
A