Akurat Logo

Banyak Korban Tsunami yang Tensi Darahnya Naik, Kenapa?

| 27 Desember 2018, 03:44 WIB
Banyak Korban Tsunami yang Tensi Darahnya Naik, Kenapa?

AKURAT.CO, Batalyon Kesehatan 1 Marinir Cilandak membangun sebuah posko untuk pengungsi korban tsunami di Desa Karanganyar, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandegelang, Banten. Saat tim peliput tsunami Akurat.co menyambangi posko itu pada Rabu, (26/12), mereka sudah melayani 207 pasien.

“Kalau saat ini, penyakitnya penyakit daerah pengungsian kayak gatal-gatal, sakit kulit, saluran pernafasan, dan saluran pencernaan kayak diare. Yang paling banyak itu batuk pilek. Banyak juga yang mengeluh mencret dan pusing,” kata Lettu Laut (K) dr. Syahrul Dian kepada AkuratHealth.

Tapi, dari banyaknya pasien itu, sebagian besarnya mengalami tekanan darah tinggi.

“Karena daerah Labuan ada di bibir pantai, maka penyakit bawaannya itu adalah hipertensi. Mereka datang sudah dengan keluhan itu. Mereka datang dengan bawa anak dan pakaian seadanya,” jelasnya.

Bahkan, rata-rata tekanan darah mereka ada pada kisaran angka 160/90.

“Itu cukup berbahaya untuk pasien hipertensi,” dia memastikan.

Siapapun, tentu tak tahan didera tsunami. Maka secara emosi, para pasien ini cukup terguncang, takut, dan terus panik. Wajar, mereka kehilangan orang-orang tercinta, tempat tinggal hingga harta benda lainnya.

“Ditambah lagi karena mereka baru saja mengalami musibah, lagi guncangan. Faktor psikologisnya mereka terganggu, jadi itu menambah berat penyakit yang sudah ada,” katanya.

Karena sudah punya riwayat hipertensi, kondisi ini makin mencuatkan keluhan itu. Rata-rata penduduk di pesisir pantai punya hipertensi bawaan karena mereka banyak yang suka mengonsumsi makanan asin.

“Komplikasinya bisa mengarah ke penyakit jantung, mengarah ke otak dan bisa sampai ginjal,” terangnya.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.