Akurat Logo

Kenali Gejala yang Terjadi Saat Sleepwalking

Khaerul S | 6 Juli 2017, 20:14 WIB
Kenali Gejala yang Terjadi Saat Sleepwalking

AKURAT.CO, Mungkin kalian sudah tidak asing mendengan sleep walking atau berjalan saat tidur. Saat orang melakukan sleepwalking, mereka akan mengalami hal-hal lucu atau unik.

Dilansir dari sleepfoundation.org, sleepwalking, yang secara formal dikenal sebagai somnambulism, merupakan kelainan perilaku yang timbul saat tidur nyenyak dan berujung berjalan atau melakukan perilaku kompleks lainnya saat tertidur. Hal ini jauh lebih umum pada anak-anak daripada orang dewasa dan lebih mungkin terjadi jika seseorang kurang tidur. Karena sleepwalker (sebutan orang yang mengalami sleepwalking) biasanya tetap tidur nyenyak selama mereka berjalan, ia mungkin sulit terbangun dan mungkin tidak akan mengingat kejadian apa yang mereka lakukan saat tidur.

Tapi, bukan berarti orang dewasa tidak mengalami hal tersebut. Permulaan atau ketekunan tidur sambil berjalan di masa dewasa merupakan hal biasa. Karena biasanya tidak terkait dengan masalah kejiwaan atau psikologis mendasar yang mendasarinya. Pemicu umum untuk berjalan dalam tidur meliputi kurang tidur, obat penenang (termasuk alkohol), penyakit demam, dan obat-obatan tertentu.

Biasanya, mereka yang mengidap sindrom ini memiliki gejala seperti mengigau, berteriak-teriak saat mereka berjalan dengan kondisi mata tertutup. Bahkan, banyak sekali kejadian yang tidak terduga saat mereka melakukan sleepwalking.

Untuk mengatasi masalah ini, tidak ada perawatan khusus. Hanya saja dalam banyak kasus, hanya memperbaiki kebersihan tidur bisa menghilangkan masalah tersebut. Jika Anda mengalami gejala, Anda harus berbicara dengan dokter atau spesialis mengenai masalah tidur.

Kalian juga harus membicarakan tentang cara mencegah cedera selama mengalami sleepwalking dan tentang kemungkinan penyakit yang mendasari hal tersebut. Selain itu juga, bersiaplah untuk berdiskusi dengan dokter atau dokter spesialis anak (jika yang mengalami sleepwalking anak-anak) mengenai berbagai faktor, seperti kelelahan, pengobatan, atau stres, yang dapat memicu gejala. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Khaerul S
A