Waspadai Defisiensi Zat Besi pada Anak, Bisa Picu Masalah Sosial
AKURAT.CO Kekurangan zat besi atau defisiensi zat besi pada anak perlu diwaspadai penuh oleh orang tua. Sebab, defisiensi zat besi bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memicu permasalahan sosial.
Ahli Nutrisi, dr. Anna Hoengdrayana, M.Gizi, Sp.GK, menjelaskan, kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, di mana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah menurun, sehingga suplai oksigen ke tubuh berkurang. Akibatnya, anak menjadi mudah lelah dan aktivitas sehari-hari terganggu.
"Anemia defisiensi zat besi berarti Hb anak rendah, sehingga oksigen yang diperlukan tubuh untuk beraktivitas juga berkurang," ujar dr. Anna, Rabu (30/4/2025).
Tak hanya mengganggu kesehatan, anemia akibat defisiensi zat besi juga berdampak pada perilaku sosial anak.
Anak cenderung menjadi lemas, malas bergerak, mudah menangis, mudah marah, dan enggan bergaul.
"Biasanya anak kecil suka aktif bergerak. Tapi anak dengan defisiensi zat besi akan cepat lelah, mudah sesak napas, dan akhirnya hanya diam saja," tambahnya.
Untuk mencegah defisiensi zat besi, dr. Anna menyarankan orang tua rutin memberikan makanan kaya zat besi, baik dari sumber hewani seperti daging merah, maupun dari sumber nabati seperti sayuran hijau.
Namun, ia mengingatkan bahwa zat besi dari sumber hewani lebih mudah diserap tubuh dibandingkan dari sumber nabati.
Untuk meningkatkan penyerapan zat besi dari sumber nabati, disarankan mengonsumsi makanan tinggi vitamin C, seperti buah jeruk, setelah makan.
“Misalnya anak makan sayur bayam, bisa dilanjutkan dengan konsumsi buah jeruk untuk membantu penyerapan zat besi," jelasnya.
Selain itu, produk fortifikasi seperti susu atau oatmeal yang diperkaya zat besi juga bisa menjadi alternatif. Namun, pemberiannya perlu diperhatikan waktu konsumsi agar penyerapan zat besi optimal.
"Susu fortifikasi sebaiknya diberikan 2–3 jam setelah makan, bukan langsung setelah makan," kata dr. Anna.
Baca Juga: Barcelona vs Inter Milan: Simone Inzaghi Sebut Timnya Menghadapi Tim Paling Ofensif
Pemerintah juga terus mendorong program fortifikasi makanan untuk menekan angka kejadian anemia yang dapat membawa berbagai kerugian, baik di bidang kesehatan maupun sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








