AKURAT.CO, Hampir seluruh masyarakat Indonesia menjadikan nasi sebagai makanan pokok, yang kehadirannya tak pernah absen disetiap hidangan keluarga. Bahkan sebagian orang menganggap kalau makan tanpa kehadiran nasi itu kurang afdal rasanya.
Namun berbeda halnya dengan masyarakat yang tinggal di Indonesia bagian Timur, salah satunya di Papua. Mereka menjadikan sagu sebagai makanan utama yang menggantikan nasi, kemudian mengolahnya menjadi sesuatu hidangan lezat yang bernama papeda.
Papeda bukanlah nama baru di dunia kuliner Nusantara, sebab sajian ini sudah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi penerusnya sebagai pendamping lauk pauk.
Bagi kalian yang pertama kali melihatnya, sekilas mirip sekali seperti lem. Mengingat warnanya yang transparan, tekturnya yang kental dan lengket. Mirip sekali seperti lem kanji dan paling nikmat sekali didamping dengan ikan kuah kuning.
Menu ikan kuah kuning biasanya menggunakan ikan gabus, ikan tongkol atau kakap merah sebagai bahan utamanya. Kemudian dimasak dengan berbagai rempah seperti bawang merah, bawang putih, serai, kunyit, daun kemangi dan jeruk nipis.
Apabila Kawan Akurat ingin menikmati sajian khas ini, kalian harus menggunakan gata-gata (sumpit kayu yang mirip sekali dengan garpu). Karena alat ini berfungsi untuk mengambil papeda yang bertekstur kental dan lengket, karena sulit kalau diambil dengan sendok.
Pada Kamis (3/5), AKURAT.CO berkesempatan untuk berdiskusi santai dengan Costan Oktemka, Bupati Pegunungan Bintang, Papua di Alenia Papua Coffe & Kitchen, Jakarta. Dalam sesi diskusi tersebut, ia mengajak untuk menikmati papeda dan tak lupa memberi tahu tata cara untuk menikmatinya.
Cara menikmatinya tergolong sangat unik, dimana papeda diambil dengan cara digulung-gulung menggunakan gata-gata hingga menggumpal. Masukkan gata-gata agak dalam supaya mendapatkan papeda lebih banyak dan menggulungnya harus cepat. Kemudian gumpalan papeda ini dituangkan ke sebuah piring.
AKURAT.CO/Lina Citra Rasmi
"Namun perlu diketahui, sebelum menggulung papeda biasanya orang Papua akan menuang kuah kuningnya di piring terlebih dahulu. Lalu menuangkan papeda. Alasannya karena saat papeda dituangkan ke piring, kuah kuning ini akan meresap ke dalam papeda sehingga rasanya lebih nikmat karena rasa asli dari papeda adalah tawar. Tetapi sekarang tiap orang memiliki cara makan yang berbeda-beda. Kalau saya menikmatinya lebih senang kalau papedanya dulu baru disiramkan kuah kuning," ujarnya sambil menggulung papeda dengan lihai.
Apabila kalian penyuka pedas, sajian papeda ini bisa ditambahkan dengan irisan cabai rawit. Bahkan bisa juga diberi perasan jeruk nipis juga, supaya kuahnya lebih segar.
"Sekarang kita gunakan garpu atau sendok untuk menyantapnya. Lalu disantap dengan cara diseruput langsung tanpa dikunyah," ujarnya.
Setelah mendengarkan pemaparan Bupati Pegunungan Bintang tentang tata cara menikmati papeda, kami pun tergoda untuk mencobanya. Ternyata menggulung papeda itu sungguh menantang, saat kita kurang dalam memasukkan gata-gata maka kumpalan papeda yang di dapatkan cukup sedikit.
Rasanya sungguh nikmat, rasa hambar dari papeda akan tertutupi setelah berpadu dengan ikan kuah kuning yang memiliki rasa yang gurih dan segar.
Menariknya, selain menggugah selera ternyata papeda ini cukup baik bagi kesehatan lho. Masyarakat setempat mengonsumsi makanan ini untuk mengatasi masalah penyakit maag maupun masalah pencernaan lainnya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





