AKURAT.CO Sayuran umumnya aman dikonsumsi, namun ada sayuran yang bisa membahayakan nyawa kalau tak disiapkan dengan benar. Sayuran ini termasuk singkong sampai terong.
Sayuran adalah bahan makanan yang umum dikonsumsi, bahkan dianjurkan untuk dimakan setiap hari demi kesehatan. Namun beberapa jenis sayuran di dunia ini butuh perlakuan dan penanganan khusus.
Menanam, menyiapkan, atau mengolahnya dengan tidak tepat akan berisiko untuk kesehatan. Dampaknya beragam, mulai dari yang ringan seperti mual dan muntah hingga kondisi serius penyebab kematian.
7 Sayuran Berbahaya di Dunia
1. Singkong
Bukan menjadi rahasia lagi kalau singkong tergolong sayuran paling berbahaya di dunia. Umbi-umbian ini mengandung glikosida sianogenik yang dapat berubah menjadi sianida saat dikonsumsi.
Mengolahnya dengan tidak tepat dapat memicu masalah pencernaan, saraf, atau bahkan pernapasan. Singkong pahit lebih berpotensi menyebabkan keracunan sianida dibanding jenis singkong yang manis.
Agar terhindar dari keracunan akibat makan singkong, disarankan untuk mengupas kulit singkong dan merendam singkong 2-3 jam sebelum dimasak. Pastikan juga seluruh bagiannya matang sempurna saat singkong dimasak.
2. Kacang merah
Kacang merah adalah jenis makanan nabati yang kaya akan manfaat. Kacang merah tinggi kandungan protein, serat, vitamin, dan mineral. Sayangnya, kacang ini juga mengandung senyawa phytohaemagglutinin.
Mengolahnya dengan tidak tepat dapat menyebabkan gejala keracunan makanan sedang hingga parah, bahkan merusak usus. Untuk mengurangi phytohaemagglutinin, kacang merah harus direndam atau direbus selama beberapa waktu. Lama waktu perebusan bergantung pada resep hidangan, biasanya minimal 30 menit.
3. Kentang
Kentang juga termasuk kedalam sayuran paling berbahaya di dunia. Hal ini karena kandungan glikoalkaloid. Beruntung umbi kentang yang merupakan bagian paling umum dari kentang untuk dikonsumsi, mengandung paling sedikit glikoalkaloid.
Jumlah glikoalkaloid bisa meningkat jika kentang terpapar cahaya banyak. Karenanya disarankan menyimpan kentang di tempat yang gelap. Hindari konsumsi kentang yang bagian kulitnya sudah berwarna hijau karena menandakan tinggi solanin.
Keracunan akibat glikoalkaloid dari kentang tak boleh disepelekan. Dampak paling ringannya kram, diare, atau muntah. Pada kasus terparah bisa memiliki efek samping neurologis.
4. Sayuran hijau
Sayuran hijau seperti selad dan bayam kerap ditarik dari pasaran karena patogenberbahaya seperti E. coli dan listeria. Jenis sayuran ini juga mungkin mengandung patogen Salmonella dan Cyclospora.
Patogen tersebut berasal dari kontaminasi tanah atau sistem irigasi saat sayuran ditanam. Penyebab lainnya bisa dari kontaminasi sampah manusia atau hewan dan bahkan dari proses panen yang kotor. Untuk menghindarinya, bayam perlu dimasak. Sedangkan selada atau sayuran berdaun lain bisa dicuci bersih dan dicampur cuka jika ingin dimakan mentah.
5. Terong
Konsumsi terong juga harus diwaspadai karena mengandung solanine. Senyawa inilah yang dapat membahayakan kesehatan, tergantung dari seberapa banyak terong dikonsums. Rata-rata terong berukuran sedang mengandung 11 mg solanine.
Asupan solanine berlebih dari terong dapat memicu keracunan makanan. Jumlahnya sekitar 17 hingga 31 buah. Dampaknya antara lain, nyeri perut, muntah, dan diare. Pada kasus terparah dapat menyeabkan aritmia jantung dan bahkan kematian.
6. Tauge
Sayuran paling berbahaya di dunia selanjutnya adalah tauge. Hindari mengonsumsinya dalam keadaan mentah karena mungkin mengandung patogen berbahaya seperti E. coli, listeria, dan Salmonella. Dampaknya termasuk diare dan muntah.
Lebih baik mengonsumsi tauge dalam keadaan matang. Cuci juga tauge dengan air mengalir sebelum diolah untuk meminimalisir kontaminasi patogen tersebut.
7. Cabe
Bagi orang Indonesia, cabe adalah pelengkap makan utama yang dijadikan sambal. Sensasi pedas, hangat, dan terbakar yang dihasilkan dari makan cabe justru dianggap menambah kenikmatan makan.
Namun faktanya, konsumsi cabe bisa berbahaya untuk orang-orang yang sensitif akan rasa pedas. Cabe bisa menyebabkan diare dan mulut terasa terbakar. Untuk mereka yang memiliki lebih sedikit reseptor capsaicin secara genetik juga bisa mengalami efek lebih parah termasuk serangan muntah yang membakar, asam lambung naik dan sakit kepala ekstrem.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK




