AKURAT.CO, Minyak goreng yang telah dikonsumsi masyarakat kemudian menjadi limbah berupa minyak jelantah atau disebut juga disebut UCO (Used Cooking Oil).
Minyak jelantah sebagian dihasilkan oleh pemakaian minyak goreng di industri, seperti restoran, warung, kafe, hotel, pabrik yang jumlahnya sekitar 9%.
Akan tetapi, sebagian besar minyak jelantah justru dihasilkan oleh rumah tangga terutama di daerah perkotaan, yang jumlahnya mencapai sekitar 91%.
Ditambah, sebagian besar minyak jelantah dibuang begitu saja oleh ibu-ibu rumah tangga ke wastafel atau tempat cuci piring, tempat sampah, selokan/got, tanah, dan sungai, sehingga mencemari lingkungan dan dapat menyebabkan banjir.
"Jika limbah minyak jelantah dibuang langsung ke dalam wastafel maka lemaknya membuat pipa tersumbat bahkan sampai harus menjebol tembok," ujar General Manager Aplikasi j-lantah di Juanda, Jakarta Pusat pada Sabtu (27/8/2022).
"Lalu, Limbah minyak jelantah yang dibuang ke tanah ini dapat menyumbat pori-pori tanah dan mencemari air tanah," sambungnya.
Menurut Fachrul, sebagian penelitian menyebutkan bahwa 1 liter minyak jelantah dapat mencemari 1.000 liter s/d 1.000.000 liter air tanah, padahal minyak jelantah tersebut jika dikumpulkan sebenarnya dapat dimanfaatkan, yaitu salah satunya untuk menjadi bahan baku biodiesel.
Melihat hal tersebut, PT SKM menyediakan aplikasi j-lantah bagi para User (rumah tangga, restoran, dll) dan juga Mitra j-lantah (driver online) dengan jumlah penyetoran minimal 1 liter, sehingga diharapkan minyak jelantah yang dihasilkan oleh rumah tangga tidak lagi dibuang begitu saja tapi dapat dikumpulkan untuk menjadi bahan baku biodiesel.
Tak hanya itu, bisa memberikan penghasilan tambahan bagi ibu-ibu rumah tangga, membuka ribuan lapangan kerja bagi mitra j-lantah, dan juga income bagi para pemilik Pool yang mengalami kesulitan ekonomi.
"Selain itu, kita juga ingin membantu masyarakat Indonesia mengurangi penggunaan minyak goreng curah yang dapat membahayakan kesehatan, yang juga bersumber dari minyak jelantah," ucapnya.
"Minyak jelantah dari rumah tangga itu bersih, jarang tercampur air dan tidak bercampur dengan oli. Untuk bau sendiri, kita tidak masalah, malahan bau bekas menggoreng dari minyak jelantah rumab tangga membuktikan bahwa minyak itu dipakai," imbuhnya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





