Tradisi Bubur Suro Palembang Sudah ada Sejak Seabad Silam

AKURAT.CO, Palembang yang selama ini dikenal sebagai kota pempek, ternyata memiliki tradisi ramadhan yang berumur lebih satu abad. Tradisi itu adalah menikmati tradisi bubur suro menjelang berbuka puasa.
“Dinamakan bubur suro karena diracik oleh salah satu pendiri Masjid Al-Muhmudiyah atau Masjid Suro yang juga termasuk masjid bersejarag Kota Palembang. Terletak di Jalan Ki Gede Ing Suro Kelurahan 30, Kecamatan Ilir,” ujar ARtibi, pembuat bubur suro, Rabu (31/5) Palembang.
Untuk 100 porsi bubur suro dibutuhkan lima kilogram beras dan 20 liter air bersih. Ada juga berbagai rempah yang menjadi bumbu utama dalam prosesnya pembuatannya.
“Untuk bumbunya, ada bawang putih, bawang merah, ketumbar, merica, garam, kecap, bumbu sop dan minyak sayur,” katanya.
Pembuatannya pun cukup mudah, beras yang sudah dicuci dimasak dan diaduk selama kurang lebih tiga jam. Racikan bumbu yang sudah ditumis dimasukkan ke dalamnya, kemudian diaduk hingga menimbulkan aroma khas.
Pada saat memasak, masukkan juga satu kilogram daging sapi yang sudah dipotong-potong untuk menambah lezat sajian bubur ketika disantap.
“Bubur suro hanya ada pada momentum tertentu saja seperti saat bulan ramadan dan lebaran anak yatim yakni tanggal 10 Muharram. Secara adat, makanan ini tidak boleh dijual bebas, karena merupakan warisan budaya,” ujarnya.
Biasanya, warga akan ramai mengantri ketika bubur sudah akan matang. Sekarang, banyak mushala di sekitar daerah sini yang ikut membuat bubur suro, sehingga warga memilih bubur suro di mushala atau masjid terdekat.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





