Akurat Logo

Cara Tepat Beli Emas Biar Investasi Makin Untung

| 26 Februari 2022, 07:10 WIB
Cara Tepat Beli Emas Biar Investasi Makin Untung

AKURAT.CO, Logam mulia atau emas menjadi masih salah satu instrumen investasi yang digemari banyak orang. Nilainya yang cenderung tumbuh dan bersifat likuid membuat emas selalu menjadi pilihan.

Meskipun tidak terlalu signifikan, harga emas tak jarang naik dan turun setiap harinya, tergantung kondisi pasar. Untuk itu, rasanya perlu untuk mengetahui waktu yang terbaik untuk membeli emas.

Pada dasarnya membeli emas bisa dilakukan kapanpun yang kita mau asalkan ada uangnya. Tapi ternyata ada trik dan tips khusus dalam membeli emas. Untuk itu, tak ada salahnya mengikuti metode atau teori Dollar Cost Averaging.

1. Metode Dollar Cost Averaging

Dollar Cost Averaging adalah upaya untuk menyebarkan transaksi investasi dengan memasukkan jumlah dana yang sama dalam rentang waktu tertentu, ketimbang berinventasi dalam satu waktu sekaligus.

Sehingga bisa dikatakan, dengan Dollar Cost Averaging, investor membagi porsi investasi secara rutin setiap bulan

Sebuah strategi berinvestasi yang sering dilakukan oleh multi-miliuner dunia seperti Warren Buffet ini sepertinya sangat layak untuk dipelajari dan diaplikasikan bagi kita yang ingin berinvestasi emas sesuai dengan dana yang dimiliki dan di waktu yang tepat.

Bagi yang akan akan atau sedang memulai investasi emas, sangat disarankan untuk menggunakan metode Dollar Cost Averaging.

Cara ini sebetulnya sangat sederhana namun memang masih kurang terdengar akrab bagi sebagian masyarakat. Untuk itu, berikut gambaran umum untuk menghitung agar mudah dipahami.

Sebut saja penghasilan bulanan Anda sebesar Rp10 juta dan ingin juga memiliki investasi emas senilai 10 juta, maka bisa kita sisihkan sebanyak 10% yang berarti 1 juta untuk berinvestasi pada aset yang kita pilih yaitu emas.

Lakukan pembelian emas selama 10 bulan kedepan senilai Rp1 juta dari penghasilan yang sudah kita sisihkan tersebut secara konsisten.

Tidak perlu menunggu harga emas turun. Karena beragam kondisi yang dapat mempengaruhi iklim pasar menjadi labil seperti politik, krisis ekonomi, penawaran – permintaan, suku bunga serta inflasi akan berpengaruh pada harga emas yang berlaku.

Dengan menggunakan metode Dollar Cost Averaging ini, nilai tukar akan lebih optimal karena kita tidak harus menebak-nebak kapan harga emas naik dan kapan harga emas turun, dibanding jika melakukan metode lump sum investment alias membeli aset dalam satu waktu sekaligus.

Jika membeli emas dalam satu waktu tertentu, akan besar kemungkinan kita menemui kerugian oleh karena kita tidak bisa meramal harga emas dikemudian hari.

2. Simulasi Dollar Cost Averaging

Dapat diasumsikan bahwa harga emas di bulan pertama adalah Rp1.000.000 per gram. Namun kemudian harga emas turun di bulan kedua menjadi Rp750.000 per gram, maka kita bisa mendapatkan emas seberat 1,3 gram di bulan kedua tetap seharga Rp1,000,000.

Lalu di bulan ketiga harga emas kembali menurun dengan nilai Rp500 ribu per gram, dengan begitu kita bisa membeli emas tersebut seberat 2 gram hanya senilai Rp1.000.000.

Hasil berbeda akan terjadi jika kita membeli emas secara lump sum atau sekaligus. Dengan membeli emas langsung Rp10 juta maka akan mendapatkan 10 gram saja tanpa ada keuntungan.

Sehingga saat yang tepat untuk investasi lump sum adalah ketika pasar sedang mengalami koreksi besar-besaran dan terjadi pemulihan kondisi ekonomi.

Walau begitu, seorang investor tidak selalu memiliki kemampuan memprediksikan titik terendah dari pasar sehingga potensi risikonya tetaplah besar.

Pada dasarnya, investasi dengan skema lump sum lebih ideal digunakan untuk memenuhi kebutuhan investasi jangka pendek hingga menengah.

Sebut saja untuk periode investasi di bawah lima tahun, seperti untuk persiapan menikah, membayar uang muka pembelian rumah, renovasi rumah, dan lainnya.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.