Akurat Logo

Australia Izinkan Pekerja Usia 55 Tahun ke Atas WFH karena Kelelahan Perjalanan

Fitra Iskandar | 16 Oktober 2026, 16:01 WIB
Australia Izinkan Pekerja Usia 55 Tahun ke Atas WFH karena Kelelahan Perjalanan
Australia izinkan pekerja usia 55 tahun ke atas WFH karena kelelahan perjalanan - Pixabay

AKURAT.CO Australia membuat keputusan penting terkait hak pekerja untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Fair Work Commission (FWC), lembaga hubungan industrial Australia, memutuskan bahwa kelelahan akibat perjalanan pergi-pulang kerja yang dialami pekerja berusia di atas 55 tahun dapat menjadi pertimbangan dalam pengajuan kerja fleksibel.

Keputusan tersebut muncul setelah Michele Duffy, 63 tahun, penasihat mahasiswa di Victoria University, mengajukan permohonan agar dapat bekerja dari rumah. FWC kemudian memerintahkan universitas tersebut memberikan kesempatan WFH satu hari dalam sepekan sebagai uji coba, setelah menilai bahwa kelelahan perjalanan yang dialami Duffy merupakan persoalan nyata.

Putusan ini menjadi sorotan dunia usaha Australia karena memperkuat perhatian terhadap kondisi pekerja berusia lanjut dan hak mengajukan pengaturan kerja fleksibel. Meski demikian, keputusan tersebut tidak berarti semua pekerja berusia di atas 55 tahun otomatis berhak bekerja dari rumah.

Pekerja 63 Tahun Keluhkan Kelelahan akibat Perjalanan

Menurut laporan News.com.au pada 15 Oktober, Duffy telah bekerja penuh waktu di Victoria University sejak 2011. Pada Juli tahun lalu, ia mengajukan permohonan untuk bekerja dari rumah selama dua hari setiap pekan karena merasa perjalanan menuju dan pulang dari kantor semakin menguras tenaga.

Duffy menyampaikan bahwa usianya yang telah melewati 55 tahun membuat kelelahan akibat perjalanan semakin berat dan berdampak pada produktivitas serta kesejahteraannya.

Namun, pihak universitas menolak permohonan tersebut dengan alasan kehadiran langsung diperlukan untuk menjalankan tugasnya. Universitas juga meminta Duffy menyerahkan bukti medis jika ingin mendapatkan izin bekerja dari rumah.

Sebagai alternatif, universitas menawarkan agar Duffy mengambil cuti satu hari setiap dua atau empat minggu. Duffy tidak menerima penyelesaian tersebut dan membawa persoalannya ke Fair Work Commission pada November tahun lalu.

Fair Work Commission Nilai Universitas Melanggar Batas Waktu

Komisioner FWC, Oanh Thi Tran, akhirnya memutuskan mendukung permohonan Duffy, meskipun mengakui universitas memiliki sejumlah alasan yang masuk akal untuk menolak pengaturan kerja yang diajukan.

Salah satu pertimbangan utama adalah universitas dinilai tidak memenuhi batas waktu 21 hari untuk memberikan tanggapan tertulis resmi sebagaimana diatur dalam Fair Work Act. Komisioner juga menerima keterangan Duffy bahwa kelelahan akibat perjalanan kerja memang berdampak signifikan terhadap dirinya.

Dalam putusannya, Tran menyatakan bahwa berdasarkan sejumlah pertimbangan, termasuk kesaksian lisan Duffy selama persidangan, pekerja berusia di atas 55 tahun tersebut mengalami kelelahan yang cukup berat akibat perjalanan menuju tempat kerja.

======

Tran menilai pengaturan kerja yang diusulkan dapat membantu mengurangi persoalan tersebut.

Berdasarkan keputusan itu, Victoria University wajib mengizinkan Duffy bekerja dari rumah setiap Rabu selama sedikitnya enam bulan, mulai tanggal 27 sesuai jadwal yang ditetapkan dalam putusan. Pengaturan tersebut berlaku sampai kedua pihak mencapai kesepakatan yang sebenarnya.

Apakah Pekerja Lansia di Australia Kini Berhak WFH?

Putusan ini dipandang sebagai preseden penting dalam perdebatan mengenai kerja fleksibel di Australia. Kasus Duffy menunjukkan bahwa kondisi pekerja yang berkaitan dengan usia dan kelelahan perjalanan dapat menjadi pertimbangan dalam permohonan WFH, meskipun penerapannya tetap bergantung pada ketentuan hukum dan keadaan masing-masing kasus.

Perkembangan ini juga berlangsung ketika Pemerintah Negara Bagian Victoria mendorong Equal Opportunity Amendment Bill 2026. Rancangan undang-undang tersebut mengusulkan jaminan hak bekerja dari rumah selama dua hari dalam sepekan dengan persyaratan tertentu.

Kasus Duffy berpotensi menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan kebijakan tersebut, terutama mengenai keseimbangan antara kebutuhan operasional perusahaan dan kesejahteraan pekerja.

Meski demikian, bekerja dari rumah tidak selalu dapat diterapkan pada semua jenis pekerjaan. Sektor ritel, perhotelan, jasa, dan layanan kesehatan, misalnya, masih membutuhkan kehadiran pekerja secara langsung untuk menjalankan sebagian besar tugasnya.

Selain itu, tidak semua pekerja memiliki ruang yang memadai di rumah atau perangkat digital yang diperlukan untuk bekerja secara efektif.

Dengan demikian, putusan FWC bukanlah pemberian hak WFH secara otomatis kepada seluruh pekerja berusia di atas 55 tahun. Keputusan tersebut lebih menegaskan bahwa kelelahan akibat perjalanan kerja dapat menjadi faktor yang patut dipertimbangkan ketika permohonan kerja fleksibel diajukan dan dinilai berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

Sumber: Asiatoday

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.