AS Buka Jalan Turki Kembali ke F-35, Israel Khawatir Keseimbangan Militer Berubah
AKURAT.CO Amerika Serikat mulai membuka kembali kemungkinan Turki bergabung dalam program jet tempur siluman F-35 setelah bertahun-tahun dikeluarkan akibat pembelian sistem pertahanan udara Rusia S-400.
Perubahan sikap Washington ini menjadi salah satu perkembangan penting dalam hubungan pertahanan Amerika Serikat dan Turki. Di sisi lain, langkah tersebut menghadapi penolakan dari Israel yang khawatir kehadiran F-35 Turki dapat mengubah keseimbangan kekuatan udara di kawasan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan akan mencabut sanksi berdasarkan Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) yang dijatuhkan kepada Turki setelah Ankara membeli sistem S-400 dari Rusia pada 2019.
Dalam pertemuan NATO di Ankara pada Juli 2026, Trump juga mengatakan dirinya "tentu saja" mempertimbangkan untuk mengembalikan Turki ke program F-35.
Turki Bisa Kembali Mendapat F-35
Turki merupakan salah satu negara mitra awal program F-35 dan telah membayar sekitar US$1,5 miliar untuk program tersebut. Namun, Ankara dikeluarkan dari program setelah memutuskan membeli S-400 Rusia.
Turki bahkan telah membiayai enam unit F-35 yang tidak pernah diserahkan kepada Ankara.
Kini, peluang untuk menghidupkan kembali hubungan tersebut mulai terbuka. Selain isu F-35, Washington juga telah memproses penjualan mesin jet F110 buatan Amerika untuk pesawat tempur nasional Turki, KAAN.
Penjualan mesin senilai sekitar US$700 juta tersebut sebelumnya mendapat penolakan dari sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat, tetapi akhirnya lolos dari proses peninjauan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan pertahanan Washington dan Ankara mulai memasuki fase baru.
Turki juga dilaporkan tengah mempertimbangkan pemindahan sistem S-400 ke negara Teluk. Langkah tersebut berpotensi menjadi salah satu solusi atas persoalan yang selama ini menjadi penghalang utama kembalinya Ankara ke program F-35.
S-400 Jadi Awal Keretakan Turki dan AS
Persoalan Turki dengan Amerika Serikat sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum pembelian S-400.
Ankara telah mencari sistem pertahanan udara jarak jauh sejak lebih dari satu dekade lalu. Pada 2009, pemerintahan Presiden Barack Obama menyetujui penjualan amunisi sistem pertahanan udara Patriot kepada Turki.
Namun, negosiasi tersebut gagal mencapai kesepakatan terkait harga, transfer teknologi, serta keinginan Turki untuk melakukan produksi lokal.
Turki kemudian mempertimbangkan sistem pertahanan udara buatan China pada 2013. Namun, rencana itu dibatalkan dua tahun kemudian.
Pada 2017, Ankara akhirnya menandatangani kesepakatan dengan Moskow untuk membeli S-400.
Sistem pertama mulai tiba di Turki pada Juli 2019.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







