Akurat Logo

Sebab-Musabab Harga Plastik di Indonesia Naik Imbas Perang Iran

Lufaefi | 7 April 2026, 17:04 WIB
Sebab-Musabab Harga Plastik di Indonesia Naik Imbas Perang Iran
Harga Plastik Naik Imbas Perang Iran (istimewa)

AKURAT.CO Perang Iran tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu efek domino terhadap rantai pasok global, termasuk industri plastik di Asia dan Indonesia.

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik tersebut menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga plastik, baik di tingkat global maupun domestik.

Konflik di kawasan Teluk, khususnya potensi gangguan di Selat Hormuz, berdampak langsung terhadap distribusi minyak mentah dan bahan baku petrokimia.

Plastik murni diproduksi dari turunan minyak bumi, sehingga ketika harga minyak melonjak, biaya produksi plastik ikut terkerek naik.

Laporan pasar menunjukkan bahwa gangguan pasokan bahan baku menyebabkan selisih harga antara plastik murni dan plastik daur ulang semakin menyempit.

Jika sebelumnya selisih harga polietilen tereftalat (PET) murni dan PET daur ulang bisa mencapai lebih dari 400 dolar AS per ton, kini selisihnya berada di kisaran 200 dolar AS per ton. Kondisi ini membuat banyak pelaku industri beralih ke resin daur ulang untuk menekan biaya.

Baca Juga: Apakah Perbankan Indonesia Aman dari Konflik Israel–Iran? Ini Penjelasan OJK

Lonjakan permintaan terhadap plastik daur ulang pun terjadi di berbagai negara Asia. Perusahaan-perusahaan daur ulang melaporkan peningkatan permintaan signifikan karena pembeli berebut mengamankan pasokan di tengah ketidakpastian harga bahan baku berbasis minyak.

Namun demikian, sektor daur ulang menghadapi keterbatasan kapasitas. Sistem pengumpulan sampah plastik—yang di banyak negara masih didominasi sektor informal—tidak bisa serta-merta ditingkatkan untuk memenuhi lonjakan permintaan secara tiba-tiba. Akibatnya, tekanan tetap terjadi pada sisi pasokan.

Di Indonesia, dampak kenaikan harga global tersebut terasa melalui jalur impor dan biaya logistik. Indonesia masih mengimpor komoditas plastik dalam jumlah besar.

Pada Februari 2026, nilai impor plastik Indonesia tercatat mencapai sekitar 873,2 juta dolar AS atau setara Rp14,84 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS).

Kenaikan harga minyak juga mendorong naiknya biaya bahan bakar dan ongkos pengiriman laut. Tekanan logistik ini menambah beban biaya di sepanjang rantai distribusi, mulai dari produsen hingga pedagang ritel.

Baca Juga: ASN Plesiran Pakai Mobil Dinas, DPRD Sentil Lemahnya Pengawasan Pemprov Jakarta

Dampaknya sudah terlihat di pasar dalam negeri. Sejumlah pedagang melaporkan kenaikan harga plastik berbagai ukuran hingga sekitar Rp6.000 per pak. Produk yang sebelumnya dijual Rp17.000 per pak kini naik menjadi sekitar Rp23.000 per pak.

Secara keseluruhan, kenaikan harga plastik di Indonesia merupakan kombinasi dari beberapa faktor: lonjakan harga minyak akibat konflik Iran, gangguan pasokan bahan baku petrokimia, peningkatan biaya logistik, serta keterbatasan kapasitas sektor daur ulang dalam merespons lonjakan permintaan. Jika ketegangan geopolitik berlanjut, tekanan harga di sektor ini berpotensi bertahan dalam jangka menengah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi