Eks Bos CIA: Trump di Posisi Sulit dalam Perang Iran

AKURAT.CO Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat sekaligus eks Direktur Central Intelligence Agency (CIA), Leon Panetta, menilai Presiden Donald Trump berada dalam posisi sulit setelah tiga pekan konflik dengan Iran.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Minggu (22/3/2026), Panetta menyebut Trump menghadapi dua pilihan berat di tengah eskalasi konflik yang berdampak luas, termasuk pada stabilitas energi global.
Ia mengatakan para pejabat keamanan nasional AS memahami kemampuan Iran, termasuk potensi memicu krisis energi dengan memblokir Selat Hormuz. Menurut Panetta, skenario tersebut kini menjadi ancaman nyata yang mempersempit ruang gerak Washington.
“Dia cenderung naif tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi,” kata Panetta, yang juga pernah bertugas di era pemerintahan Bill Clinton dan Barack Obama.
Baca Juga: Biaya Perang Membengkak, Israel Disebut Gunakan Amunisi Lama untuk Lawan Iran
Perang yang dimulai pada 28 Februari disebut diawali dengan serangan yang diharapkan menjadi pukulan cepat. Namun, seiring waktu, konflik dinilai semakin sulit dikendalikan.
Dalam laporan tersebut disebutkan 13 personel militer AS tewas. Sementara pejabat kesehatan Iran melaporkan lebih dari 1.400 warga Iran meninggal dunia akibat rangkaian serangan.
Serangan awal dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, yang kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Panetta menilai perubahan kepemimpinan itu justru memperkuat struktur kekuasaan di Teheran. Ia menyatakan, “Kita ‘mengganti’ seorang pria tua… dan sebaliknya hari ini kita memiliki rezim yang lebih mapan.”
Ia menambahkan bahwa pemimpin baru dinilai lebih keras dan berpotensi memimpin dalam jangka waktu lebih lama. “Itu tidak berjalan dengan baik,” ujarnya.
Di dalam negeri, Trump disebut menghadapi tekanan politik akibat kenaikan harga minyak dan menurunnya tingkat popularitas dalam sejumlah jajak pendapat. Koalisi politiknya juga dilaporkan menunjukkan tanda-tanda perpecahan.
Baca Juga: Prabowo Bantah Indonesia Janjikan US$1 Miliar untuk Board of Peace
Panetta menilai pesan yang dikirimkan Washington kepada dunia terkesan ambigu, terutama terkait tujuan akhir dan durasi konflik.
Situasi di kawasan hingga kini masih dinamis, dengan dampak keamanan dan ekonomi yang terus menjadi perhatian komunitas internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 6India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 7Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan








