Pemimpinnya Banyak yang Tewas, Ini Rahasia Iran Tidak Tumbang dalam Perang Lawan AS-Israel

AKURAT.CO Di tengah eskalasi perang dengan Amerika Serikat dan Israel yang disebut telah menewaskan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, pemerintah Iran dinilai tetap bertahan karena struktur kekuasaan yang kokoh dan terdesentralisasi.
Laporan BBC News, pada 19 Maret 2026 menyebut, meski sejumlah petinggi militer dan politik tewas akibat serangan udara, sistem Republik Islam Iran dirancang untuk menahan guncangan besar. Para analis menggambarkan struktur kekuasaan Iran sebagai sistem yang tidak bergantung pada satu figur tunggal.
Peneliti Timur Tengah di European Geopolitical Institute, Sébastien Boussois, mengibaratkan struktur Iran seperti makhluk mitologi hydra.
“Strukturnya seperti hydra: Anda memotong satu kepala, dan kepala-kepala baru akan tumbuh,” ujarnya.
Salah satu faktor utama ketahanan Iran adalah model kepemimpinan kolektif yang oleh sejumlah pakar disebut sebagai polidiktator.
Bernard Hourcade, mantan direktur French Institute for Research in Iran, menjelaskan bahwa Iran bukan sekadar kediktatoran personal. Ia menyebut sistem Iran sebagai aliansi antara pendukung Islam politik dan nasionalisme Iran yang kuat.
Kekuasaan di Iran tersebar di berbagai pusat, mulai dari lembaga keulamaan, Dewan Wali, militer, hingga jaringan ekonomi besar yang terhubung dengan negara. Dewan Wali, misalnya, memiliki kewenangan memveto undang-undang serta menyaring kandidat dalam pemilu, sehingga memperkecil peluang munculnya oposisi kuat dari dalam sistem.
Peran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga dinilai sangat sentral. Selain menjadi kekuatan militer, IRGC memiliki pengaruh besar di sektor ekonomi dan politik. “Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merupakan tulang punggung rezim,” kata Hourcade.
Menurut Wakil Menteri Pertahanan Iran, Reza Talaeinik, setiap komandan IRGC telah memiliki penerus hingga tiga tingkat di bawahnya untuk menjaga kesinambungan komando.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem kepemimpinan militer Iran telah dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan kehilangan figur-figur puncak.
Selain faktor militer, jejaring ekonomi berbasis yayasan (bonyad) dan konglomerasi yang terhubung dengan IRGC turut memperkuat loyalitas elite.
Sistem patronase ini memastikan kelompok-kelompok kunci tetap memiliki kepentingan terhadap kelangsungan rezim, meskipun ekonomi Iran terdampak sanksi Barat.
Dari sisi ideologi, warisan Revolusi 1979 masih menjadi fondasi kuat. Jaringan lembaga keagamaan dan pendidikan yang dibangun sejak revolusi terus membentuk loyalitas ideologis aparat dan sebagian masyarakat. Boussois menilai ideologi tersebut menjadi sumber nyata bagi persatuan, panggilan tugas, dan rekrutmen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 4Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 5Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 6Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 7Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 8India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi





