Akurat Logo

Negara-negara yang Telah Dibom Amerika Sejak 2001, Total Kematian Lebih dari 940.000 Orang

Lufaefi | 4 Maret 2026, 05:13 WIB
Negara-negara yang Telah Dibom Amerika Sejak 2001, Total Kematian Lebih dari 940.000 Orang
Presiden Amerika Donald Trump (istimewa)

AKURAT.CO Sejak serangan 11 September 2001, Amerika Serikat tercatat terlibat dalam tiga perang besar dan melakukan pemboman di sedikitnya 10 negara di bawah empat presiden berbeda. Keterlibatan militer tersebut menelan biaya yang sangat besar, baik secara finansial maupun kemanusiaan.

Laporan terbaru yang dirangkum Al Jazeera, Rabu (4/3/2026), menyebutkan, sejak 2001 AS telah melakukan operasi militer di Afghanistan, Irak, Yaman, Pakistan, Somalia, Libya, Suriah, Venezuela, Nigeria, dan Iran. Operasi tersebut mencakup invasi darat, serangan udara, hingga penggunaan drone dalam kampanye jarak jauh.

Setelah tragedi 9/11, Presiden George W. Bush meluncurkan apa yang disebut sebagai “perang melawan teror”. Kebijakan ini kemudian berlanjut di era Barack Obama, Donald Trump, hingga presiden-presiden berikutnya dengan berbagai bentuk intervensi militer.

Baca Juga: Jurnalis CNN Turki Diculik Tentara Israel Saat Siaran Langsung Kerusakan Tel Aviv

Menurut analisis Proyek Biaya Perang dari Watson Institute for International and Public Affairs di Brown University, perang yang dipimpin AS sejak 2001 menyebabkan sekitar 940.000 kematian langsung di Afghanistan, Pakistan, Irak, Suriah, Yaman, dan wilayah konflik lainnya. Angka itu belum termasuk korban tidak langsung akibat kelaparan, penyakit, dan runtuhnya layanan publik.

Dari sisi anggaran, Amerika Serikat diperkirakan telah menghabiskan sekitar 5,8 triliun dolar AS untuk membiayai perang selama lebih dari dua dekade. Rinciannya meliputi 2,1 triliun dolar oleh Departemen Pertahanan, 1,1 triliun dolar oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri, 884 miliar dolar untuk peningkatan anggaran dasar pertahanan, 465 miliar dolar untuk perawatan veteran, serta sekitar 1 triliun dolar untuk pembayaran bunga utang perang.

Selain itu, pemerintah AS diperkirakan masih harus mengalokasikan sedikitnya 2,2 triliun dolar lagi dalam 30 tahun ke depan untuk biaya perawatan veteran. Dengan demikian, total beban perang sejak 2001 diproyeksikan mencapai sekitar 8 triliun dolar AS.

Perang terpanjang terjadi di Afghanistan. Pada 7 Oktober 2001, AS meluncurkan Operasi Enduring Freedom untuk menggulingkan Taliban dan memburu al-Qaeda. Konflik ini berlangsung selama 20 tahun hingga penarikan pasukan pada 2021. Diperkirakan 241.000 orang tewas secara langsung akibat perang tersebut, sementara ribuan lainnya meninggal karena dampak tidak langsung.

Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Pemerintah Pastikan Pemulangan Jemaah Umrah Secara Bertahap

Pada 2003, pemerintahan Bush juga melancarkan invasi ke Irak dengan alasan dugaan kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Presiden Saddam Hussein—klaim yang kemudian tidak terbukti. Konflik tersebut memicu ketidakstabilan berkepanjangan dan kemunculan kelompok ISIS.

Di luar perang terbuka, AS juga memperluas penggunaan drone di Pakistan, Somalia, dan Yaman. Intervensi juga terjadi di Libya pada 2011 melalui operasi yang dipimpin NATO, yang berujung pada tergulingnya Muammar Gaddafi dan instabilitas politik jangka panjang.

Sejak 2014, AS melakukan serangan udara berkelanjutan di Suriah dan kembali meningkatkan operasi di Irak untuk memerangi ISIS. Pada 2020, pemerintahan Trump memerintahkan serangan yang menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani, memicu ketegangan besar di kawasan.

Terbaru, meski sebelumnya berjanji mengurangi keterlibatan dalam perang luar negeri, Presiden Trump kembali melancarkan serangan militer besar terhadap Iran bersama Israel, menargetkan infrastruktur strategis dan kepemimpinan negara tersebut.

Selama lebih dari dua dekade, kebijakan militer AS telah membentuk ulang peta geopolitik global. Namun, biaya yang ditanggung—baik dalam bentuk korban jiwa maupun anggaran triliunan dolar—menjadi catatan panjang dalam sejarah intervensi militer Amerika Serikat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi