India Pulangkan 500 Warganya dari Thailand Usai Penggerebekan Pusat Penipuan Online di Myanmar

AKURAT.CO Pemerintah Thailand mengumumkan rencana pemulangan 500 warga India yang melarikan diri dari Myanmar setelah penindakan besar-besaran terhadap pusat operasi penipuan online di wilayah perbatasan. Langkah ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul pada Rabu (29/10/2025).
Ratusan warga India tersebut kini berada di Kota Mae Sot, wilayah perbatasan Thailand dengan Myanmar. Mereka merupakan bagian dari ribuan pekerja yang kabur dari kompleks KK Park, salah satu pusat operasi penipuan daring terbesar di Myanmar, yang baru-baru ini digerebek aparat setempat. Pemerintah India, kata Anutin, telah menyiapkan pesawat khusus untuk menjemput warganya langsung dari Thailand.
“Hampir 500 warga India berada di Mae Sot. Pemerintah India akan mengirim pesawat untuk membawa mereka pulang,” ujar Anutin seperti dikutip dari CNA.
Menurut laporan pemerintah provinsi Tak, sejak operasi penindakan di KK Park dimulai pekan lalu, lebih dari 1.500 orang dari 28 negara telah menyeberang ke Thailand. Para pekerja tersebut mengaku melarikan diri karena takut ditangkap atau diserang akibat penggerebekan yang berlangsung di tengah konflik bersenjata di wilayah itu.
Kompleks seperti KK Park selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas penipuan online lintas negara yang melibatkan ribuan pekerja dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Para pelaku menggunakan berbagai modus seperti love scam atau penipuan asmara, serta investasi palsu untuk menipu korban dari berbagai negara.
Banyak pekerja mengaku mereka diperjualbelikan dan dipaksa bekerja di pusat penipuan itu, meski sejumlah analis menilai ada juga yang bergabung secara sukarela karena tergiur gaji tinggi yang ditawarkan. Kondisi perang saudara di Myanmar sejak kudeta militer 2021 membuat pengawasan di wilayah perbatasan longgar dan memberi ruang bagi kelompok kriminal untuk berkembang.
Para pengamat juga menuding militer Myanmar menutup mata terhadap operasi penipuan daring ini karena sebagian besar dijalankan oleh milisi sekutu mereka, yang dianggap penting dalam perang melawan kelompok pemberontak. Namun, tekanan internasional—khususnya dari China—memaksa junta Myanmar mengambil tindakan. Beijing disebut geram karena banyak warganya menjadi korban sekaligus pelaku dalam jaringan kejahatan siber tersebut.
Sebelumnya, pada Februari lalu, pemerintah Myanmar dan Thailand juga melakukan operasi gabungan yang berhasil memulangkan sekitar 7.000 pekerja migran dari pusat-pusat penipuan serupa. Thailand bahkan sempat menerapkan blokade internet lintas perbatasan untuk memutus jaringan komunikasi para pelaku kejahatan siber itu.
Kini, dengan pemulangan besar-besaran tahap terbaru, pemerintah kedua negara berharap dapat mengurangi aktivitas penipuan daring lintas negara yang marak di kawasan Asia Tenggara, khususnya di perbatasan Myanmar–Thailand.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 6Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 7India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 8Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan








