Ketegangan Diplomatik: Australia Akui Palestina, Israel Marah Besar

AKURAT.CO Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan kritik tajam kepada Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyusul keputusan Australia untuk mengakui Palestina sebagai negara. Perseteruan ini menambah panas hubungan diplomatik kedua negara, terutama setelah Australia membatalkan visa seorang anggota parlemen Israel.
Melalui akun resminya di X (Twitter), Netanyahu menuduh Albanese telah “menelantarkan orang-orang Yahudi Australia” dan menyebutnya sebagai politisi lemah yang mengkhianati Israel. Unggahan itu muncul pada Selasa malam, hanya beberapa jam setelah keputusan Australia yang dianggap merugikan Israel.
Ketegangan makin memuncak karena pemerintah Australia juga membatalkan visa Simcha Rothman, anggota Partai Zionis Religius dan Ketua Komite Konstitusi Knesset. Rothman dijadwalkan mengunjungi komunitas Yahudi di Australia, namun visanya diblokir di menit-menit terakhir karena pernyataannya yang dianggap provokatif terkait Gaza.
Alasan Australia Akui Palestina
Anthony Albanese menegaskan bahwa langkah pengakuan Palestina bukanlah hadiah untuk Hamas, melainkan upaya memutus siklus kekerasan yang sudah berlangsung 77 tahun di Timur Tengah.
“Yang kami lakukan adalah mengirim pesan bahwa komunitas internasional sudah mengatakan cukup. Gaza telah hancur, puluhan ribu nyawa melayang, termasuk anak-anak. Dunia sudah muak melihat tragedi ini,” ujar Albanese.
Menurutnya, keputusan Australia sejalan dengan negara-negara lain seperti Inggris, Prancis, Kanada, dan Selandia Baru. Ia menambahkan bahwa pada sidang Majelis Umum PBB bulan September, Australia akan bergabung dengan 147 negara yang telah mengakui Palestina.
Kritik Balik dari Oposisi dan Israel
Namun, langkah ini tidak lepas dari kritik keras. Senator Partai Liberal Michaelia Cash menuduh Albanese justru “memberi penghargaan kepada teroris” dengan mengakui Palestina sebelum Hamas membebaskan sandera.
Nada serupa juga disampaikan Duta Besar Israel untuk Australia, Amir Maimon. Ia memperingatkan bahwa pengakuan Palestina justru bisa melemahkan proses perdamaian dan memperkuat posisi Hamas.
“Dengan mengakui negara Palestina saat Hamas masih membunuh dan menolak perdamaian, Australia merusak keamanan Israel dan memberikan kemenangan kepada mereka yang menentang koeksistensi,” katanya.
Albanese menyebutkan bahwa keputusan ini diambil setelah diskusi dengan sejumlah pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, serta Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Pemerintah Australia menyatakan dukungan pada solusi dua negara: menjamin keamanan Israel sekaligus memenuhi aspirasi politik rakyat Palestina untuk memiliki negara sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 2Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 7Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 820 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja







