Perayaan Imlek di China Penuh dengan Dilema, Warga Bebas Pergi Tapi Takut Sebar Infeksi

AKURAT.CO Chen Ling hampir tidak bisa menahan kegembiraannya melihat kereta peluru dari Beijing meluncur ke stasiun kereta api Zhengzhou Timur di provinsi Henan, China tengah. Saat itu sore hari, dan kereta sudah penuh sesak dengan orang-orang yang ingin bepergian. Pemandangan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum dimulainya perayaan Tahun Baru Imlek minggu ini.
Namun, seperti warga lainnya, Chen tidak peduli dengan sesaknya ruang kereta.
Wanita 29 tahun itu dengan senang hati menjadi salah satu dari jutaan orang yang bepergian melintasi negara, mengunjungi keluarga saat perayaan Imlek, salah satu festival paling terkenal dalam kalender China.
Sebelum China menetapkan kebijakan ketat nol-COVID, Chen belum kunjung pergi ke kampung halaman dan mengunjungi orang tuanya. Maka tak heran, jika kali ini, setelah banyak pembatasan dilonggarkan, Chen Ling begitu antusias. Ia bahkan menceritakan bagaimana terburu-burunya ia saat turun dari kereta, menerobos stasiun yang padat, melihat orang tuanya sudah menunggu di luar pintu masuk utama.
"Yang ada di pikiran saya adalah bisa bertemu dengan keluarga saya lagi," ujarnya kepada Al Jazeera dalam sebuah wawancara melalui platform media sosial China WeChat.
"Saya tidak bisa menahan air mata saat melihatnya. Begitu pula dengan ibu saya ketika saya memeluknya untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun," kata Chen.
Berkat pembongkaran kebijakan nol-COVID yang begitu cepat baru-baru ini, keluarga di seluruh China akhirnya bisa bersatu kembali. Momen perayaan Imlek seperti ini, yang menjadi pertama kalinya dalam beberapa tahun, menjadi begitu dinanti.
Seperti banyak warga China lainnya, seperti Chen, sangat gembira. Dia mengaku tak bakal percaya jika diberi tahu beberapa bulan lalu, bahwa dia akan berkumpul kembali bersama keluarga.
Perayaan Tahun Baru Imlek di China, yang secara tradisional diisi dengan perjalanan bertemu dengan keluarga, 'mandek' sepanjang tahun 2020-2022. Saat itu, keluarga-keluarga dipisahkan dengan adanya pembatasan perjalanan hingga persyaratan karantina dan pengujian.
Namun, di balik kesukacitaan itu, tak sedikit yang khawatir bahwa perjalanan Tahun Baru Imlek akan membawa risiko tersendiri. Perayaan ini telah digambarkan sebagai migrasi manusia tahunan terbesar di dunia. Sehingga momen seperti 'pulang kampung' menjadi sangat diperhatikan lantaran anggota keluarga yang rentan bisa terpapar virus karena kedatangan sanak saudara.
Beberapa orang di China kini harus bergulat dengan keputusan yang sulit: Haruskah mereka terus menjaga jarak dari orang-orang terkasih yang rentan? selama liburan tahun ini? Ini adalah dilema tanpa jawaban sederhana.
38 ribu kematian per hari
Zhang Jie, 35 tahun, adalah salah satu dari sekian banyak orang China yang merasa sulitnya berkumpul kembali dengan keluarga.
Orang tua dan kakek-nenek Zhang tinggal serumah di kampung halamannya, di sebuah desa kecil tidak jauh dari Wuhan. Zhang takut dia mungkin tanpa sadar membawa virus corona bersamanya jika nekat pulang ke rumah selama Imlek.
"Tidak satu pun dari mereka yang mengidap Covid, dan dan kakek nenek saya sudah tua dan tidak divaksinasi. Jadi, meskipun saya merindukan mereka dan sangat ingin pulang, saya memutuskan untuk tidak mengambil risiko," katanya kepada Al Jazeera.
Sebaliknya, Zhang akan tinggal di Shanghai, merayakan Imlek bersama dengan beberapa temannya, yang juga telah membatalkan kunjungan keluarga karena takut kerabat lansia mereka terpapar corona.
Presiden China Xi Jinping juga mengungkapkan sentimen serupa dalam pidatonya pada Kamis.
"Saya paling khawatir tentang daerah pedesaan dan petani," kata Xi.
"Fasilitas medis di daerah pedesaan relatif lemah, sehingga pencegahannya sulit dan tugasnya berat," ujarnya seraya menekankan bahwa jaminan kesehatan dan keselamatan lansia kini harus diprioritaskan.
Ada banyak cerita di media pemerintah China tentang bagaimana sumber daya medis telah dialihkan ke klinik dan rumah sakit pedesaan, sebagai persiapan untuk menghadapi lonjakan infeksi di kota-kota kecil dan wilayah terpencil.
Namun, media pemerintah China yang dikontrol ketat juga melaporkan bahwa gelombang Covid-19 yang sekarang dialami negara tersebut mungkin telah mencapai puncaknya. Kesimpulan ini datang usai wabah menyerang kota-kota seperti Beijing, Guangzhou, dan Shanghai segera setelah pembatasan dicabut pada awal Desember.
Baru-baru ini, Komisi Kesehatan Nasional China juga mengungkap bahwa sekitar 60 ribu orang telah meninggal akibat virus sejak awal Desember. Komisi percaya bahwa 'puncak darurat' dari lonjakan terbaru tampaknya telah berlalu, menurut laporan media.
Yang lain memiliki penilaian situasi yang lebih gamblang. Firma riset yang berbasis di London, Airfinity, telah mengeluarkan analisis terbarunya. Merkea mengatakan bahwa China bisa saja melihat sekitar 36 ribu kematian sehari selama Tahun Baru Imlek, dengan para pelancong menjadi katalis utama dalam menyebarkan virus ke arah barat.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini



