AKURAT.CO Parlemen Eropa telah menemukan kata sepakat, menyarankan agar Pengawal atau Garda Revolusi Iran (IRGC) dimasukkan ke dalam daftar teroris Uni Eropa (UE).
Seruan itu, yang dibuat pada Kamis (19/1) mengikuti langkah serupa dari Inggris, yang saat ini juga tengah mempertimbangkan pendeklarasian IRGC sebagai organisasi terlarang. Parlemen Eropa, dalam sikapnya, telah bersikeras bahwa Teheran harus diberi sanksi yang diperluas sebagai buntut dari penindasan pasukan keamanan Iran terhadap para demonstran.
Badan legislatif tersebut pada Kamis berhasil mengumpulkan suara mayoritas, menggambarkan hukuman semacam itu sebagai bentuk 'perlawanan terhadap kemunduran cepat hak asasi manusia di Iran'. Untuk mencapai resolusi, mereka meminta 27 negara anggota UE untuk memberikan suara.
Namun, Parlemen Eropa tidak hanya ingin memasukkan IRGC ke dalam daftar hitam terorisnya, tetapi juga larangan aktivitas ekonomi atau keuangan yang berkaitan dengan organisasi tersebut.
Iran menentang
Segera setelah pemungutan suara Parlemen Eropa, Teheran langsung buka suara. Presiden Iran Ebrahim Raisi pada Kamis mengutuk seruan tersebut, menyebutnya 'melanggar hukum internasional dan piagam PBB'.
Pemungutan suara yang dilakukan UE adalah bentuk 'keputusasaan', kata Raisi, seperti dikutip kantor berita resmi IRNA. Raisi menambahkan bahwa IRGC merupakan badan resmi dan bagian dari militer Republik Islam.
Seruan dari Parlemen Eropa datang sebelum pertemuan para menteri luar negeri UA pada Senin, di mana diprediksi akan ada lebih banyak sanksi untuk Iran.
Resolusi itu, yang tidak mengikat, datang setelah empat bulan protes anti-pemerintah di Iran. Gerakan sipil ini, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini telah menjadi ganjalan besar bagi para pemimpin Republik Islam.
Amini, seorang wanita Kurdi-Iran, meninggal di usia 22 tahun, setelah ditangkap oleh polisi moral atas dugaan melanggar aturan berpakaian.
Protes sejak kematiannya dengan cepat meningkat menjadi seruan untuk menggulingkan teokrasi dan menandai salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya dalam lebih dari empat dekade.
Iran telah menyebut demonstrasi tersebut sebagai 'kerusuhan', menyalahkan AS dan kekuatan asing lainnya, tanpa memberikan bukti. Sementara itu, para pengunjuk rasa mengaku telah muak dengan represi sosial dan politik, korupsi, dan ekonomi yang terbebani oleh sanksi dan salah urus Barat.
UE dengan tegas telah mengutuk kekerasan yang digunakan Iran selama demonstrasi, AP News melaporkan.
Sementara, AS lebih dulu menetapkan IRGC sebagai 'organisasi teroris asing', dan menjatuhkan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini




