Akurat Logo

Di Bawah Kekuasaan Taliban, Wajah Manekin Harus Ditutupi dengan Kantong Plastik Hitam

Bani Maryanto | 17 Januari 2023, 19:35 WIB
Di Bawah Kekuasaan Taliban, Wajah Manekin Harus Ditutupi dengan Kantong Plastik Hitam

AKURAT.CO  Beberapa waktu lalu, para pemilik toko pakaian di provinsi barat Herat di Afganistan diminta untuk memenggal kepala boneka manekin oleh para penguasa Taliban. Menggunakan intrepretasi ketatnya terhadap aturan agama, Taliban menganggap manekin adalah 'berhala', yang mana ini adalah dosa.

Tak lama lagi tersiar kabar soal peraturan tersebut, persoalan manekin kembali muncul di negara miskin itu. Dilaporkan bahwa di Kabul, manekin-manekin telah ditutup wajah dan kepalanya dengan menggunakan berbagai bahan, dari mulai kerudung, plastik hitam, hingga kertas alumunium.

NPR hingga South China Morning Post mengungkap aturan baru Taliban tersebut, menggambarkannya sebagai 'pemandangan yang mengerikan'. Di toko-toko pakaian, manekin yang biasanya dirias secantik mungkin, mendadak berubah seperti boneka di film-film horor.

Terlihat beberapa kepala manekin dibungkus dengan karung kain. Sementara yang lain ditutupi dengan kantong plastik hitam.

Manekin berkerudung adalah salah satu simbol kekuasaan puritan Taliban atas Afganistan. Namun di satu sisi, manekin telah menjadi semacam pertunjukan kecil perlawanan sekaligus kreativitas dari para pedagang pakaian di Kabul.

 AP

Awalnya, Taliban ingin manekin-manekin itu langsung dipenggal.

Kebijakan itu keluar tak lama usai Taliban merebut kekuasaan Agustus 2021 silam. Saat itu, Kementerian Keburukan dan Kebajikan Taliban memutuskan bahwa semua manekin harus disingkirkan dari jendela toko atau kepalanya dilepas. 

Taliban mendasarkan perintahnya pada interpretasi ketat mereka terhadap hukum Islam yang melarang patung dan gambar berbentuk manusia. Menurut mereka, benda-benda semacam ini bisa disembah, dijadikan sebagai berhala. Namun, aturan ini juga telah dikaitkan dengan kampanye Taliban yang terkesan ingin mendepak perempuan keluar dari kehidupan publik.

Beberapa penjual pakaian menurut. Tapi yang lain berani menawar.

AP

Para pedagang pakaian mengeluh mereka tidak bisa memajang pakaian dengan benar atau harus merusak manekin yang berharga. Menanggapi seruan ini, Taliban lantas mengubah perintahnya. Akan tetapi, sebagai gantinya, para pedagang disuruh untuk menutupi kepala manekin di toko mereka.

Para pemilik toko harus menyeimbangkan bisnis mereka, antara mematuhi Taliban dan berusaha menarik pelanggan. Berbagai solusi yang mereka hasilkan-menekin yang ditutup- dipajang di Jalan Lycee Maryam, jalan komersial kelas menengah yang dipenuhi toko pakaian di bagian utara Kabul. 

Jendela-jendela toko dan ruang pamer dipenuhi dengan manekin dalam berbagai macam gaun malam dan baju yang penuh dengan warna dan dekorasi. Tapi, semuanya memiliki kesamaan, dengan kepala ditutup dengan berbagai cara.

Di salah satu toko, kepala manekin dibungkus dengan kain yang dibuat khusus dari bahan yang sama dengan pakaian tradisional yang dijadikan model. Satu manekin, dibalut gaun ungu dengan hiasan manik-manik dari kerang cowrie. Diserasikan dengan gaunnya, kepala manekin-manekin ini dipasani tudung kain berwarna ungu.

Manekin lain memiliki penampakan tak jauh berbeda, dengan gaun merah bersulam emas, dan kepala yang dihiasai beludru merah dan mahkota emas di atasnya.

Seorang penjual mengaku tak mau menutupi kepala manekinnya dengan plastik. 

"Saya tidak bisa menutupi kepala manekin dengan plastik atau benda jelek karena akan membuat jendela dan toko saya terlihat jelek," ujar Bashir. Seperti pemilik lainnya, Bashir berbicara kepada The Associated Press dengan syarat hanya diidentifikasi dengan nama depannya karena takut akan pembalasan.

Pemilik toko perlu menjaga hal-hal tetap menarik. Ekonomi Afganistan ambruk sejak pengambilalihan Taliban dan penghentian pembiayaan internasional berikutnya, membuat hampir seluruh penduduk jatuh ke dalam jurang kemiskinan.

Gaun dengan desain rumit selalu populer di Afganistan untuk acara pernikahan. Baju-baju jenis ini sudah terkenal bahkan sebelum Taliban memisahkan masyarakatnya berdasarkan jenis kelamin. Gaun jenis itu  memberi kesempatan kepada para perempuan Afganistan untuk memakai pakaian terbaik mereka di tengah masyarakatnya yang konservatif.

Di bawah Taliban, pernikahan adalah salah satu dari sedikit peluang yang tersisa untuk pertemuan sosial. Tetapi dengan pendapatan yang sangat terbatas, desaian gaun menjadi kurang rumit.

Bashir mengatakan penjualannya hanya mencapai setengah dari sebelumnya.

"Membeli baju pengantin, gaun malam dan pakaian adat bukan lagi prioritas masyarakat. Orang lebih berpikir tentang bagaimana cara mendapatkan makanan dan bertahan hidup," ujarnya.

Pemilik toko lainnya, Hakim, memilih untuk menutupi wajah manekinnya dengan kertas aluminium. Ia mengatakan bahwa cara ini akan menambah efek cahaya tertentu pada barang dagangannya.

"Saya memanfaatkan ancaman dan larangan tersebut, dengan menjadikan manekin saya lebih menarik dari sebelumnya," katanya.

Namun, tidak semua manekin ditutup dengan cara rumit. Di satu toko, manekin dengan gaun tanpa lengan, semuanya kepalanya ditutupi dengan karung plastik hitam. Sang pemilik mengaku tidak mampu membeli lebih banyak barang.

Agen dari Kementerian Keburukan dan Kebajikan Taliban secara teratur berpatroli di toko-toko hingga mal untuk memastikan manekin dipenggal atau ditutupi, ungkap pemilik toko lainnya, Aziz.

Aziz menolak pembenaran Taliban untuk aturan tersebut. 

"Semua orang tahu manekin bukanlah berhala, dan tidak ada yang akan menyembahnya. Di semua negara Muslim, manekin digunakan untuk memajang pakaian," pungkasnya.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
E
Editor
Endarti