Akurat Logo

'Perang Salib' Berkobar di Ekuador, Polisi Dibom Mafia Narkoba usai 1.002 Napi Dipindah

| 4 November 2022, 14:55 WIB
'Perang Salib' Berkobar di Ekuador, Polisi Dibom Mafia Narkoba usai 1.002 Napi Dipindah

AKURAT.CO Ekuador memperketat keamanannya akibat meletus rentetan serangan yang menewaskan beberapa petugas polisi. Presiden Guillermo Lasso sontak menetapkan status keadaan darurat selama 45 hari di provinsi Guayas dan Esmeraldas.

Dilansir dari CNN, situasi mencekam ini bermula dari terjadinya 3 serangan ledakan pada hari yang sama, yaitu 2 bom mobil dan 1 pengeboman di sekitar Unit Polisi Masyarakat. Menurut pernyataan Kepala Polisi Ekuador Fausto Salinas pada Selasa (1/11), setidaknya 5 petugas polisi Ekuador tewas dalam serangan itu. Ia menambahkan bahwa gelombang serangan ini merupakan balasan atas pemindahan pilihan narapidana ke penjara lain di Ekuador.

Pada Kamis (3/11), Menteri Keamanan Nasional Diego Ordonez berjanji pemerintah akan mengambil kembali kendali atas penjara Ekuador dan menerapkan operasi antikejahatan lainnya.

Penjara Ekuador berulang kali menjadi tempat pertumpahan darah. Lasso pun menyalahkan geng narkoba yang terorganisir atas kekerasan di dalam penjara, begitu juga di seluruh Ekuador yang menjadi titik transit utama pada rute yang membawa kokain dari Amerika Selatan menuju Amerika Serikat (AS) dan Asia.

REUTERS

Penjara Ekuador sendiri sudah sangat penuh sesak. Menurut kepala penjara saat itu, Eduardo Moncayo, pada Juli 2021, yang paling penuh sesak di negara itu adalah Lembaga Pemasyarakatan Litoral. Lebih dari 9 ribu narapidana mendekam di sana, padahal kapasitasnya hanya 5 ribu tahanan.

Sistem penjara pindah dalam siaga tinggi sejak terjadi bentrokan pada September 2021 yang melibatkan senjata otomatis, bahkan granat. Lebih dari 300 narapidana tewas dalam kekerasan penjara pada 2021, menurut angka dari dinas penjara Ekuador, SNAI. Kerusuhan penjara di utara negara itu pun menewaskan lebih dari 23 orang pada bulan Mei.

Pada Selasa (1/11), 1.002 narapidana dipindahkan dari Guayaquil, penjara paling kejam di Ekuador, ke penjara-penjara di seluruh negeri. Alasannya adalah untuk mengurangi kepadatan, memperbaiki infrastruktur, dan kondisi keamanan, menurut SNAI. Pemindahan narapidana itu lantas dibalas dengan 3 serangan bom.

REUTERS

"Serangan dilakukan sebagai balasan atas keputusan tegas pemerintah nasional untuk mengambil kembali kendali penjara dan memberantas bisnis narkoba di negara ini," kecam Menteri Pertahanan Luis Lara.

Artinya, kekerasan di Guayas dan Esmeraldas terkait dengan perdagangan narkoba dan kejahatan terorganisir.

"Kami tak akan menurunkan kewaspadaan kami. Mereka tak bisa menurunkan semangat polisi. Kekuatan negara tak bisa menyerah pada kejahatan terorganisir. Polisi tak boleh kewalahan," tekad Menteri Dalam Negeri Juan Zapata.

Sekitar 1.400 personel militer telah dikerahkan di Guayaquil. Lebih banyak lagi akan ditambahkan pekan ini.

"Kejadian di Guayaquil dan Esmeraldas sangat menyayat hati. Geng-geng kriminal tak akan dapat mengambil alih negara ini. Dukung sepenuhnya presiden kita Guillermo Lasso, Angkatan Bersenjata, dan Polisi. Ini harus menjadi 'perang salib' nasional. Dukungan internasional juga menjadi kunci perang salib ini," twit Menteri Luar Negeri Juan Carlos Holguin pada Selasa (1/11). []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.