Kota Perbatasan Myanmar Membara! Junta Luncurkan Artileri Lawan Pasukan Milisi, 8 Ribu Penduduk Melarikan Diri

AKURAT.CO, Kota pegunungan Thantlang di negara bagian Chin yang dekat dengan pertabatasan India rusuh setelah dibombardir junta Myanmar. Rumah-rumah terbakar dan hampir seluruh penduduk melarikan diri menghindari amukan junta yang menargetkan pasukan milisi anti-kudeta.
Gambar-gambar situasi kota Thantlang yang awut-awutan itu kini banyak beredar di media massa. Dalam berbagai foto, rumah-rumah penduduk dilalap api, dengan asap tebal yang membumbung tinggi.
Sekitar 20 rumah hancur terbakar di Thantlang, menurut kantor berita Reuters.
Sementara, seorang pendeta Kristen dilaporkan tewas karena ditembak mati oleh tentara. Pendeta itu kemudian diidentifikasi sebagai Cung Biak Hum, yang jarinya dipotong setelah junta tentara menjarah cincin kawin, ponsel hingga jam tangannya. Dilaporkan bahwa pendeta itu sempat mencoba memadamkan api dari sebuah gedung yang terbakar sebelum akhirnya ditembak.
Diwartakan BBC hingga media independen Myanmar The Irrawaddy, kekacuan di kota Thantlang terjadi selama bentrokan akhir pekan antara junta yang berkuasa dan pasukan perlawanan sipil. Dalam peperangan itu, junta meluncurkan tembakan artilerinya ke beberapa rumah.
Pada hari Sabtu (18/9), lebih dari 30 tentara junta dilaporkan tewas dalam baku tembak dengan pasukan gabungan Pasukan Pertahanan Chinland-Thantlang (CDF-T) dan Tentara Nasional Chin (CNA), menurut CDF-T.
Setelah menanggung banyak korban itu, pasukan junta langsung meluncurkan serangan. Secara acak, mereka menembaki daerah pemukiman kota menggunakan senjata berat dan bahan peledak. Balasan dari junta inilah yang akhirnya membuat warga lari kalang-kabut.
Dalam kekacuan itu, hampir seluruh kota Thantlang yang berpopulasi 8 ribu jiwa, kabur. Sementara penduduk yang tersisa di kota hanyalah beberapa lusin orang, seperti pendeta atau warga senior, kata Thantlang Placement Affair Committee-IDPs Help (TPAC-IDPs), yang membantu penduduk melarikan diri.
Juru bicara TPAC-IDPs, Salai Lian, lalu menambahkan bahwa dalam insiden itu, pasukan militer ikut 'menembaki rumah-rumah', dan akhirnya memicu orang-orang untuk kabur.
"Pemboman junta dan penembakan acaknya telah menyebabkan seluruh penduduk kabur dari kota," tambah seorang pejabat TPAC-IDP kepada The Irrawaddy pada Senin (20/9).
Kesaksian serupa juga diungkap oleh seorang penduduk kepada Myanmar Now. Saksi ini juga menambahkan bahwa semua penduduk sipil Thantlang telah melarikan diri, dan yang tersisa orang-orang yang tidak ikut dalam gerakan pembangkangan sipil.
"Hampir 100 persen penduduk telah melarikan diri. Hanya pegawai pemerintah yang tidak berpartisipasi dalam gerakan pembangkangan sipil dan tentara yang tetap berada di kota," kata saksi tersebut.
Setelah bentrokan itu, empat warga sipil dilaporkan terluka.
- Penduduk kabur ke India, PBB sebut warga Thantlang 'hidup dalam neraka'
Diperkirakan ribuan penduduk kota Thantlang telah melarikan diri ke India melintasi perbatasan terdekat.
Mengingat, di negara bagian Mizoram, India, kepala kelompok masyarakat sipil mengatakan bahwa ribuan orang telah tiba di sana. Kepada Reuters, kelompok itu mengatakan bahwa setidaknya ada 5.500 orang yang tiba dari Myanmar di dua distrik Mizoram selama seminggu terakhir.
Pelapor khusus PBB Thomas Andrews telah menyampaikan keprihatinan soal nasib yang menimpa para penduduk Thantlang. Ia bahkan menyebut bagaimana situasi di Thantlang seperti 'neraka' bagi orang-orang yang bertahan di bawah kuasa junta Burma.
- Korban kudeta junta capai 1.100 orang, termasuk 75 anak-anak
Demonstrasi telah menyebar ke seluruh negeri setelah kudeta Februari dengan pasukan keamanan membalas dengan tindakan keras. Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), sudah seribu orang lebih yang telah tewas dalam aksi demokrasi menentang junta. Sementara jumlah yang ditahan mencapai 6 ribu lebih.
Andrews mengungkap laporan serupa di mana ia menyebut yang tewas telah mencapai hingga 1.100 jiwa, dan 75 di antaranya adalah anak-anak.
Menurut Andrews, junta militer juga telah secara sistematis menculik kerabat orang-orang yang ingin ditangkap. Di antaranya termasuk anak-anak berusia 20 minggu.
Pada Rabu (22/9), Andrews juga mengatakan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB bahwa kondisi di negara itu terus memburuk dan bahwa 'upaya saat ini oleh komunitas internasional untuk menghentikan spiral peristiwa di Myanmar tidak berhasil'.
"Junta militer dan pasukannya telah membunuh lebih dari 1.100 orang, termasuk puluhan anak-anak. Hingga Juli, junta telah membunuh sedikitnya 75 anak berusia mulai dari 14 bulan hingga 17 tahun.
"Militer secara rutin menculik anggota keluarga ketika mereka tidak dapat menemukan individu yang ingin ditangkap," ungkap Andrews.
Sementara warga sipil terus berjatuhan, pada Agustus, Jenderal Min Aung Hliang mengangkat dirinya sebagai perdana menteri dan mengumumkan perpanjangan keadaan darurat negara. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 2Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 7Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 8Prediksi Skor Bayern vs Arsenal 22 Oktober 2026: Duel Produktivitas dan Pertahanan
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja



