Akurat Logo

Meriahnya Parade Taliban Usai Ditinggal Pasukan Asing, Pamer Beragam Peralatan Militer AS yang Disita, Termasuk Black Hawk 

Bani Maryanto | 2 September 2021, 13:05 WIB
Meriahnya Parade Taliban Usai Ditinggal Pasukan Asing, Pamer Beragam Peralatan Militer AS yang Disita, Termasuk Black Hawk 

AKURAT.CO,  Helikopter Black Hawk terbang berputar-putar di atas jantung spiritual sekaligus tempat kelahiran Taliban di Kandahar, Afganistan selatan. Setidaknya satu helikopter Black Hawk terlihat terbang di atas Kandahar dalam beberapa hari terakhir, menunjukkan seseorang dari mantan tentara Afganistan berada di kontrol karena Taliban kekurangan pilot. 

Sementara di bawah helikopter, tampak para pejuang Taliban berdiri dengan sumringah di atas rentetan kendaraan militer roda empat Humvee. 

Barisan panjang kendaraan tempur lapis baja hijau juga terlihat melaju dalam satu barisan. Sebagian besar kendaraan memasang bendera Taliban di antena. Truk-truk yang ditumpangi itu dulunya digunakan pasukan AS, NATO dan Afganistan selama perang dua dasawarsa.

 Dawn
Dawn

Dalam konvoinya itu, mereka juga tampak memegang senjata berat hingga senapan serbu ringan M16 yang kerap digunakan oleh marinir AS.

Mengutip Dawn, situasi serupa juga terjadi di pinggir Kandahar, kota Ayno Maina, di mana para pejuang tampak memanjat kendaraan militer.

Menambah kemeriahan, ratusan pendukung Taliban berkerumun di tengah Lapangan Cricket Kandahar. Di sana, mereka mendengarkan pidato yang memuji Taliban setelah serangan yang sukses bulan lalu dan menuangkan cemoohan untuk AS.

Tersiar kabar bahwa pemimpin tertinggi rahasia Taliban Hibatullah Akhundzada akan muncul. Namun, saat itu, dia tidak muncul dan akhirnya meninggalkan gubernur baru kota itu untuk berbicara di depan orang banyak.

Sementara itu, para pemimpin senior duduk di tempat teduh di ruang istirahat para pemain, bersandar di kursi berlengan di belakang meja kopi kayu.

Yang lain duduk bersila di atas rumput, sementara lebih banyak lagi yang berkumpul di teras berdiri untuk menonton. Sedangkan beberapa orang terlihat menengok ke atas sembari mengibas-ngibaskan bendera Imarah Islam yang berwarna putih.

  Dawn
 AFP via Dawn
DW
 Dawn

Itulah beberapa gambaran yang berhasil ditangkap pasca Taliban ditinggal pergi Amerika Serikat (AS) dan koalisinya pada Selasa (31/8) lalu. Mereka menggelar parade besar-besaran dengan memamerkan beragam perangkat keras militer AS yang disita. 

Parade itu menjadi putaran kemenangan Taliban menyusul pengambilalihan Kabul, dan mengakhiri 20 tahun perang yang melelahkan.

Pada saat yang bersamaan, sebuah tim dari Qatar mendarat di bandara yang hancur di Kabul. Tujuan tim adalah untuk memperbaiki fasilitas dan melanjutkan penerbangan bantuan. Kedatangan mereka juga untuk memberikan jalan keluar bagi warga yang ingin melarikan diri dari rezim baru.

Sebelumnya, PBB memang mengingatkan adanya 'bencana kemanusiaan' yang menjulang di Afganistan yang dilanda perang. 

Penerbangan Qatar Airways itu menjadi yang pertama tiba di Kabul setelah AS menarik pasukannya. Mereka membawa tim ahli teknis untuk bekerja di bandara, kata seorang sumber yang dekat dengan masalah tersebut kepada AFP.

Namun kedatangan tim Qatar ke bandara Kabul tentunya menghadapi banyak tantangan tersendiri. Itu termasuk pembicaraan mengenai siapa yang akan menjalankan bandara di tengah pemerintahan baru yang dikuasai Taliban. Meski dalam hal ini, Taliban belum juga mengumumkan pemerintahanannya yang resmi.

Adegan kemenangan Taliban itu juga terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Joe Biden memberikan pidato menantang yang membela keputusannya untuk mengakhiri perang terpanjang AS. Ia juga berbicara tentang upaya evakuasi hiruk pikuk yang terjadi ketika pemerintah Afganistan sebelumnya jatuh.

Biden telah dikecam oleh para kritikus atas penarikan pasukan dari Afganistan. Namun, dalam pidatonya, Biden memuji operasi evakuasi dan menyebutnya sebagai 'keberhasilan luar biasa'. Ini mengingat, hanya dalam waktu dua minggu, AS dan sekutu mampu mengevakuasi hingga lebih dari 122 ribu orang.

Kendati demikian, ribuan orang Afganistan yang takut akan pembalasan Taliban masih tertinggal.

"Setiap orang yang menjalaninya dihantui oleh pilihan yang harus kami buat dan oleh orang-orang yang tidak dapat kami bantu untuk pergi," kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, Rabu, yang berbicara tanpa menyebut nama. []

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
E
Editor
Endarti