Akurat Logo

Manusia Purba Jenis Baru Ditemukan di Israel, Diduga Hidup Berdampingan dengan Manusia Modern

| 25 Juni 2021, 20:24 WIB
Manusia Purba Jenis Baru Ditemukan di Israel, Diduga Hidup Berdampingan dengan Manusia Modern

AKURAT.CO, Para peneliti di Israel telah mengidentifikasi manusia purba yang jenisnya tidak diketahui sebelumnya. Ia hidup berdampingan dengan jenis manusia modern lebih dari 100 ribu tahun yang lalu.

Dilansir dari BBC, penemuan di dekat Kota Ramla itu diyakini merupakan salah satu yang selamat terakhir dari kelompok manusia sangat purba. Temuan ini terdiri atas pecahan tengkorak dan rahang dari seorang individu yang hidup 140 ribu hingga 120 ribu tahun yang lalu. Detailnya telah dipublikasikan di jurnal Science.

Menurut peneliti, individu ini merupakan turunan spesies sebelumnya yang mungkin telah menyebar dari wilayah tersebut ratusan ribu tahun yang lalu, kemudian memunculkan Neanderthal di Eropa dan padanannya di Asia. Garis keturunan baru ini dinamai jenis 'Nesher Ramla Homo'.

Menurut Hila May dari Universitas Tel Aviv, temuan tersebut membentuk kembali kisah evolusi manusia, terutama gambaran tentang bagaimana Neanderthal muncul. Gambaran umum evolusi Neanderthal di masa lalu pun terkait erat dengan Eropa.

"Semuanya dimulai di Israel. Kami menyimpulkan populasi sumbernya adalah kelompok lokal. Selama periode interglasial, gelombang manusia Nesher Ramla bermigrasi dari Timur Tengah ke Eropa," terangnya.

BBC

Peneliti berpikir bahwa anggota awal kelompok Nesher Ramla Homo sudah ada di Timur Dekat sekitar 400 ribu tahun yang lalu. Mereka pun memperhatikan kemiripan antara temuan baru dan kelompok 'pra-Neanderthal' purba di Eropa.

"Ini pertama kalinya kami dapat menghubungkan titik-titik antara berbagai spesimen yang ditemukan di Levant (Syam). Ada sejumlah fosil manusia dari Gua Qasem, Zuttiyeh, dan Tabun yang berasal dari masa itu, tetapi tidak dapat kami kaitkan dengan kelompok manusia tertentu yang telah diketahui. Namun, perbandingan bentuknya dengan spesimen yang baru ditemukan dari Nesher Ramla membenarkan inklusi mereka dalam kelompok manusia baru," ujar Rachel Sarig yang juga berasal dari Universitas Tel Aviv.

May pun menyimpulkan kalau manusia ini adalah nenek moyang Neanderthal.

"Neanderthal Eropa sebenarnya berawal dari sini, di Levant, dan bermigrasi ke Eropa, sambil kawin silang dengan kelompok manusia lainnya," kata May.

Sementara itu, yang lainnya pergi ke timur, ke India dan China, sehingga ada hubungan antara manusia purba Asia Timur dan Neanderthal di Eropa, menurut Profesor Israel Hershkovitz.

"Beberapa fosil yang ditemukan di Asia Timur menunjukkan ciri-ciri mirip Neanderthal, begitu juga dengan Nesher Ramla," tuturnya.

Baca Juga: Ilmuwan Prediksi Manusia Bisa Hidup hingga Usia 150 Tahun, Ini Alasannya

Klaim peneliti itu didasarkan pada kesamaan fitur antara fosil Israel dan yang ditemukan di Eropa dan Asia, meski pernyataan mereka kontroversial. Profesor Chris Stringer dari Natural History Museum di London, Inggris, belum lama ini menilai sisa-sisa manusia China.

"Nesher Ramla penting untuk mengonfirmasi lebih jauh bahwa spesies yang berbeda hidup berdampingan satu sama lain di wilayah tersebut saat itu dan sekarang kita punya cerita yang sama di Asia Barat," ucapnya.

Meski begitu, ia berpikir lompatan untuk menghubungkan sejumlah fosil Israel yang lebih tua dengan Neanderthal masih terlalu jauh saat ini.

"Saya juga belum yakin dengan kesimpulan adanya hubungan khusus antara fitur Nesher Ramla dan fosil di China," imbuhnya.

Kerangka Nesher Ramla sendiri ditemukan di tempat yang dulunya adalah lubang pembuangan di daerah yang seting dikunjungi manusia prasejarah. Daerah ini mungkin merupakan tempat mereka berburu sapi liar, kuda, dan rusa, seperti yang tercermin oleh ribuan peralatan batu dan tulang binatang buruan.

BBC

Menurut analisis Yossi Zaidner di Universitas Hebrew Yerusalem, peralatan ini dibuat dengan cara yang sama seperti peralatan yang dibuat manusia modern pada masa itu juga.

"Mengejutkan bahwa manusia purba menggunakan alat yang biasanya terkait dengan Homo sapiens. Ini menunjukkan bahwa ada interaksi antara kedua kelompok," kata Zaidner.

Pasalnya, belajar membuat alat hanya mungkin dilakukan melalui pembelajaran visual atau lisan.

"Temuan kami menunjukkan bahwa evolusi manusia jauh dari sederhana dan melibatkan banyak penyebaran, kontak, dan interaksi antara spesies manusia yang berbeda," pungkasnya.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.