7 Fakta Menarik Pulau Jeju di Korea Selatan, Bebas Visa untuk WNI

AKURAT.CO, Sudah bukan rahasia lagi Korea Selatan punya sejuta pesona untuk dieksplorasi. Destinasi wisatanya, makanannya, dan budayanya yang khas pun kerap ditampilkan di drama atau variety show-nya yang terkenal sampai ke seantero dunia. Ditambah dengan K-Popnya yang mendunia, tak heran wisatawan berbondong-bondong mengunjungi Negeri Ginseng ini.
Selain Seoul, Pulau Jeju menjadi destinasi favorit wisatawan, termasuk para selebritas. Dengan iklimnya yang hangat, pulau ini layaknya "Hawaii"-nya Korea. Selain itu, Pulau Jeju punya pesona berbeda dibandingkan kawasan Korea Selatan lainnya. Bebas visa, pulau ini sangat tepat bagi warga negara Indonesia (WNI) yang ingin "mencicipi" suasana Korea Selatan.
Dihimpun oleh AKURAT.CO dari berbagai sumber, berikut 7 fakta menarik Pulau Jeju.
1. "Hawaii"-nya Korea
Berbeda dari kawasan Korea Selatan lainnya, suhu di Pulau Jeju hangat sepanjang tahun, seperti pulau tropis. Bahkan, musim dinginnya terasa sejuk. Pantai-pantainya pun terkenal indah dan ramai dikunjungi turis sepanjang tahun. Terhitung 15 juta wisatawan berlibur ke sana setiap tahunnya. Tak heran pulau berpenduduk 700 ribu jiwa ini dijuluki "Hawaii"-nya Korea.
2. Meraih tiga status UNESCO sekaligus
Terbentuk dari letusan gunung berapi, Pulau Jeju menjadi tempat pertama di dunia yang meraih 3 status UNESCO sekaligus di bidang alam dan sains, yaitu Cagar Biosfer (2002), Warisan Alam Dunia (2007), dan Geopark Dunia (2010). Dua status pertama disematkan pada Taman Nasional Hallasan di gunung tertinggi Korea Selatan, Gunung Hallasan. Sementara itu, seluruh Pulau Jeju ditetapkan sebagai Geopark Dunia karena keunikan formasi gunung apinya dan sumber geologinya.
3. Negara dalam negara
Ada 9 provinsi di Korea Selatan, tetapi Jeju menjadi satu-satunya provinsi yang punya pemerintahan otonomi sendiri. Itu sebabnya pulau ini seperti negara dalam negara. Selain itu, dialek di Jeju berbeda dari bahasa Korea biasanya.
Di sejumlah tayangan variety show pun sering diperlihatkan mereka mengerti ucapan artis Seoul, tetapi artis Seoul tak mengerti ucapan mereka. Saking berbedanya dialek ini, bahasa Jeju pun dianggap bahasa tersendiri. Sayangnya, jumlah penuturnya makin langka sehingga UNESCO memasukkan bahasa Jeju dalam status terancam punah dalam Atlas of Languange.
4. Punya masa lalu kelam
Meski sekarang jadi destinasi liburan favorit, Jeju menyimpan sejarah kelam. Di zaman Dinasti Joseon, pulau ini dijadikan tempat pengasingan para kriminal dan pemberontak. Pasalnya, pulau ini terpisah dari daratan utama Korea dan sulit untuk melarikan diri dari sana saat itu. Terhitung selama 500 tahun ada 200 narapidana dikirim ke sana.
Sebuah tragedi berdarah juga pernah mewarnai sejarah modern Jeju usai perang Korea berakhir. Saat itu, partai komunis merencanakan demonstrasi menentang pemisahan Semenanjung Korea dan Pemilu yang akan digelar. Pada 3 April 1948, 11 kantor polisi diserang dan tempat pemungutan suara dibakar.
Karena negosiasi gagal, militer Korea Selatan diperintahkan menangkap massa pendukung gerakan kiri di seluruh negeri. Mereka yang ditangkap dibagi dalam 4 kelompok dengan 2 kelompok di antaranya dieksekusi mati. Mirisnya, 30 ribu penduduk di 130 desa di Jeju ikut dikorbankan dalam operasi ini. Untuk mengenangnya, didirikan Taman Perdamaian 3 April yang terbuka untuk turis.
5. Destinasi favorit untuk bulan madu
Punya pantai yang indah, tak heran Jeju jadi destinasi favorit bagi mereka yang baru saja menikah. Selain itu, ada taman patung khusus di sana yang memamerkan erotisme dan sensualitas. Tempat wisata bernama Loveland ini ingin menunjukkan seksualitas sebagai sebuah seni.
Jeju juga terkenal akan patung uniknya, Dol Hareubang. Patung dari batu vulkanik ini terlihat seperti kakek yang sedang tersenyum dengan tangan yang memegang perut. Patung ini pun terlihat unik karena topi jamurnya. Ada mitos yang menyebut orang yang mengusap hidung Dol Hareubang bisa segera punya anak.
6. Menganut sistem semimatriarki
Korea Selatan dikenal menganut sistem patriarki, tetapi penduduk di Jeju justru menerapkan sistem semimatriarki. Penerapan sistem ini paling jelas digambarkan oleh penyelam wanita yang disebut Haenyeo. Haenyeo juga menjadi simbol semangat kemandirian, tekad, dan kemauan yang kuat. Menyelam untuk mengumpulkan abalon pun menjadi pekerjaan profesional mereka dan para Haenyeo ini menjadi tulang punggung keluarga. Tradisi ini sudah ada sejak tahun 434 Masehi.
7. Bebas visa
Warga Indonesia yang ingin berlibur di Korea Selatan tentu harus mengajukan visa terlebih dahulu. Namun, hal ini ternyata tak berlaku di Jeju. Pasalnya, pulau di selatan Semenanjung Korea ini bebas visa untuk hampir semua negara, termasuk Indonesia. Karena bebas visa, WNI yang tiba di Bandara Internasional Jeju boleh berwisata di sana selama 30 hari.
Itulah 7 fakta menarik Pulau Jeju di Korea Selatan. Tertarik liburan di sana? []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T



