Akurat Logo

5 Tahun Hilang Tanpa Kepastian, Ini Cara Keluarga Korban Pesawat MH370 Saling Melipur Lara

| 2 Maret 2019, 20:10 WIB
5 Tahun Hilang Tanpa Kepastian, Ini Cara Keluarga Korban Pesawat MH370 Saling Melipur Lara

AKURAT.CO, Lima tahun telah berlalu, tetapi kenangan itu belum pudar di benak keluarga korban kecelakaan pesawat Malaysian Airlines MH370. Mereka masih ingat saat keluarga yang mereka cintai naik ke pesawat. Nahas, pesawat itu lenyap bagai ditelan bumi.

Sekelompok orang Malaysia rutin bersua sekali sebulan. Biasanya mereka berkumpul di kedai kopi atau di sebuah rumah di Kuala Lumpur. Bukan sembarang kumpul-kumpul, mereka saling menguatkan dan terus mendesak publik agar tak melupakan misteri hilangnya pesawat Malaysian Airlines MH370.

Dilansir dari Reuters, tercatat ada 239 orang berada di pesawat berjenis Boeing 777 yang lenyap saat menuju Beijing dari Kuala Lumpur. Insiden tanggal 8 Maret 2014 itu pun menjadi misteri terbesar di dunia penerbangan.

Pecahan puingnya ditemukan terombang-ambing di garis pantai timur Afrika. Namun, dua usaha pencarian di Samudera Hindia bagian selatan tak membuahkan hasil apapun.

Tak adanya titik terang dan beratnya menghadapi kenyataan membuat mereka bersandar satu sama lain.

"Kami berkumpul untuk menunggu jawaban," ucap Jacquita Gonzales, istri Patrick Gomes yang saat itu menjadi supervisor penerbangan MH370.

Wanita 57 tahun itu pun kerap menjadi tuan rumah saat kelompok keluarga korban itu berkumpul di rumahnya di pinggiran Kuala Lumpur.

"Kami pun seakan sudah menjadi keluarga... keluarga besar," sambungnya.

Selama lima tahun itu, mereka berkampanye agar masyarakat tak berpaling dari insiden itu. Mereka juga saling membantu mengatasi duka mereka dan mencoba hidup normal seperti dulu lagi. Mereka tetap harus bekerja, membesarkan anak, dan untuk Gonzales, melawan penyakitnya.

Wanita yang bekerja sebagai guru TK itu didiagnosa menderita kanker payudara untuk kedua kalinya.

"Saat pertama kali aku sakit kanker, suamiku hadir memberiku dukungan. Sayang, kali kedua ini, tak ada lagi dirinya. Tapi aku punya keluarga di sekelilingku, begitu juga kawan, anak-anakku, dan kini hadir pula keluarga besar MH370. Jadi, kami harus melanjutkan hidup kami," ungkapnya.

Di ruang tamu rumahnya, tergantung lukisan padang bernuansa biru dan kuning. Itulah hadiah dari Calvin Shim, keluarga korban lainnya MH370. Lukisan itu dihadiahkan untuk Gonzales agar tetap tegar dalam masa penyembuhannya pascaoperasi.

Menurut pengakuan ayah dua anak itu, kelompok itu benar-benar membantunya menyesuaikan diri menjadi orang tua tunggal. Istri tercintanya, Christine Tan, bertugas sebagai awak penerbangan MH370.

"Kelompok ini tahu betul apa yang kita semua rasakan. Dari segi emosional, kelompok ini benar-benar mendukung dan menolong kami. Apalagi pesawat itu tak pernah ditemukan," ucapnya.

Dua tahun pascainsiden nahas itu, tepatnya awal tahun 2017, Malaysia, China, dan Australia menghentikan upaya pencarian yang menghabiskan dana USD 144 juta (Rp 2,04 triliun) di Samudra Hindia bagian selatan lantaran hasilnya nihil.

Upaya pencarian berikutnya selama 3 bulan yang dipimpin perusahaan eksplorasi Amerika Serikat, Infinity Ocean, bernasib serupa.

Setelah itu, diterbitkan laporan setebal 495 halaman pada bulan Juli 2017. Dalam laporan itu, pesawat Boeing 777 itu diduga sengaja diterbangkan keluar dari jalur, tetapi tak ditemukan siapa yang harus bertanggung jawab.

Jika nantinya ada bukti baru, Pemerintah Malaysia mengatakan siap melanjutkan pencarian lagi. Namun, tidak teridentifikasinya apa yang terjadi di detik-detik terakhir pesawat itu menghilang membuat upaya ini tampak mustahil.

"Saat teman-temanku menceritakan pasangannya sudah meninggal, aku sangat iri. Setidaknya mereka tahu kepastiannya. Mereka sempat mengucapkan selamat tinggal. Tapi kami tak bisa mengucapkan selamat tinggal sama sekali," keluh Gonzales. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.