Akurat Logo

Ketika Bangsa Amerika Peringati 21 Tahun Serangan 9/11, Warga Tak Ingin Kemarahan 'Memakan' Mereka

Bani Maryanto | 12 September 2022, 17:10 WIB
Ketika Bangsa Amerika Peringati 21 Tahun Serangan 9/11,  Warga Tak Ingin Kemarahan 'Memakan' Mereka

AKURAT.CO Bangsa Amerika pada Minggu (11/9) memperingati 21 tahun serangan 11 September atau juga dikenal 9/11. Dengan penghormatan dan permohonan penuh air mata, mereka meminta untuk 'tidak pernah melupakan' peristiwa tersebut, yang telah menjadi teror paling mematikan di tanah AS.

Kehilangan masih terasa tak lama bagi Bonita Mentis, yang mengenakan kalung dengan foto saudara perempuannya yang terbunuh, Shevonne Mentis.

"Sudah 21 tahun, tapi ini bukan 21 tahun bagi kami. Rasanya baru kemarin," ujar Mentis sebelum membacakan nama-nama korban di World Trade Center (WTC) di hadapan orang banyak, termasuk Wakil Presiden Kamala Harris dan suaminya Doug Emhoff.

Di Pentagon, yang juga menjadi sasaran 9/11, Presiden Joe Biden bersumpah bahwa AS akan terus bekerja untuk membasmi plot teroris. Ia juga meminta warga Amerika untuk selalu membela 'demokrasi, yang berusaha dikubur oleh para teroris 9/11 dalam api, asap, dan abu yang menyala-nyala'.

Ibu Negara Jill Biden, sementara itu, berbicara di lokasi serangan ketiga, sebuah lapangan dekat Shanksville, Pennsylvania.

Pada 11 September 2001, para konspirator dari kelompok militan Muslim al-Qaida membajak sejumlah jet, dan menggunakannya sebagai rudal berisi penumpang. Pesawat-pesawat itu lantas dihantamkan ke Menara Kembar dan Pentagon. Jet keempat diarahkan ke Washington, tetapi jatuh di dekat Shanksville setelah anggota awak dan penumpang mencoba menyerbu kokpit.

Serangan itu menewaskan hampir 3ribu orang, mengatur ulang kebijakan keamanan nasional dan memicu 'perang melawan teror' AS di seluruh dunia. Peringatan hari Minggu datang kurang dari sebulan setelah serangan drone AS menewaskan seorang tokoh kunci al-Qaida yang membantu merencanakan 9/11, Ayman al-Zawahri.

Pierre Roldan, yang kehilangan sepupunya Carlos Lillo, seorang paramedis, mengatakan bahwa 'mereka memiliki semacam keadilan' ketika serangan AS membunuh Osama bin Laden pada 2011.

"Sekarang setelah al-Zawahri hilang, setidaknya kami terus mendapatkan keadilan itu," kata Roldan.

Dalang serangan yang memproklamirkan diri, Khalid Shaikh Mohammed, masih menunggu pengadilan militer yang telah lama tertunda. Seorang pengacara pembela untuk Mohammed pada minggu ini mengonfirmasi adanya negosiasi. Dikatakan bahwa perundingan ini sedang berlangsung menuju kesepakatan potensial untuk menghindari persidangan dan menjatuhkan hukuman yang lebih ringan. Namun, katanya, prosesnya masih panjang.

Seorang pria berdoa selama upacara peringatan 9/11 di Museum Nasional Peringatan 11 September di New York, pada Minggu (11/9)-AP Photo

Serangan 11 September telah memunculkan rasa persatuan nasional bagi banyak orang. Akan tetapi, teror ini juga telah bertahun-tahun membuat warga Muslim Amerika dilanda gelombang kecurigaan dan kefanatikan. Ini menimbulkan perdebatan tentang keseimbangan antara keselamatan dan kebebasan sipil. 

Dalam cara yang halus dan lebih sederhana, dampak 9/11 bergejolak melalui politik dan kehidupan publik Amerika hingga hari ini.

Tapi seperti beberapa kerabat korban lainnya, Jay Saloman khawatir bahwa kesadaran warga Amerika tentang 9/11 saat ini sedang surut.

"Itu adalah serangan teroris terhadap negara kita hari itu. Dan secara teoritis, semua orang harus mengingatnya dan, Anda tahu, harus selalu waspada dan berhati-hati," kata Saloman, yang kehilangan saudaranya, Wayne Saloman.

Secara tradisi, tidak ada tokoh politik yang berbicara di upacara ground zero. Sebaliknya, perayaan itu berpusat pada kerabat yang membacakan dengan lantang nama-nama orang yang meninggal.

Seperti semakin banyak pembaca, Brooke Walsh-DiMarzio belum lahir ketika kerabatnya meninggal. Tapi dia naik podium untuk menghormati neneknya, Barbara Walsh.

"Saya di sini hari ini untuk mewakili generasi 9/12, mereka yang tidak pernah mengalami 9/11 tetapi masih menderita akibat peristiwa itu. Kami tidak akan pernah lupa," ucap Walsh-DiMarzio. 

Nikita Shah mengenakan T-shirt yang memuat kutipan 'Tak Pernah Lupa' dari peringatan tahunan 9/11. Ukiran ayahnya juga terpampang, 'Jayesh Shah'. Nikita masih berumur 10 tahun ayahnya tewas dalam serangan tersebut. Keluarganya telah pindah ke Houston tetapi sering kembali ke New York untuk memperingati peristiwa tersebut. 

"Kami di sekitar orang-orang yang mengalami jenis kesedihan yang sama dan perasaan yang sama setelah 9/11," kata Nikita, seperti dikutip dari NPR.

Para pembaca untuk peringatan 9/11 sering menambahkan komentar pribadi yang membentuk paduan sentimen Amerika tentang serangan — kesedihan, kemarahan, ketangguhan, penghargaan untuk responden pertama dan militer, seruan untuk patriotisme, harapan untuk perdamaian, sesekali duri politik, dan gabungan pedih dari wisuda , pernikahan, kelahiran, dan kehidupan sehari-hari yang terlewatkan oleh para korban. 

Beberapa pembaca lainnya memilih mencatat peristiwa baru-baru ini, tahun ini mulai dari pandemi virus corona yang masih berlangsung hingga perang Rusia di Ukraina.

Beberapa kerabat juga mengeluhkan bahwa sebuah negara yang bersatu setelah 9/11 justru telah terpecah belah. Badan-badan penegak hukum dan intelijen federal, yang dibentuk kembali untuk fokus pada terorisme internasional setelah 9/11, sekarang melihat ancaman ekstremisme kekerasan dalam negeri, yang mana sama-sama mendesak.

"Butuh tragedi untuk menyatukan kita. Seharusnya tidak perlu tragedi lain untuk menyatukan kita lagi," kata Andrew Colabella, yang sepupunya, John DiGiovanni, tewas dalam pengeboman tahun 1993, yang juga menargetkan WTC.

Komunitas di seluruh negeri menandai hari itu dengan nyala lilin, layanan antaragama dan peringatan lainnya, dan beberapa orang Amerika bergabung dalam proyek sukarela. Yang lain mengamati hari peringatan tersebut dengan merefleksi diri sendiri.

Lebih dari 70 rekan kerja Sekou Siby tewas di Windows on the World, restoran yang berada di atas menara utara WTC. Siby selamat hanya karena juru masak lain memintanya untuk berganti shift saat serangan terjadi.

"Setiap peringatan 9/11 adalah pengingat dari apa yang telah hilang dari diri saya, yang tidak pernah bisa saya pulihkan lagi,:" ujar Siby, yahng sekarang adalah presiden ROC United, sebuah kelompok advokasi pekerja restoran. 

Ginny Barnett, sementara itu, menjadi sukarelawan di situs Shanksville setelah serangan 9/11. Ia telah berjuang selama bertahun-tahun untuk menerima tragedi itu. Di sana, ia pun bisa secara bertahap menemukan harapan dengan menjadi sukarelawan untuk peringatan 9/11. 

"Saya telah melihat secara langsung kejahatan yang bisa dilakukan manusia, tetapi saya juga melihat kebaikan yang bisa dilakukan manusia. 

"Dengan pertolongan Tuhan, kita bisa fokus dan memupuk kebaikan, daripada membiarkan kebencian dan kemarahan memakan kita," kata Barnett pada Minggu. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
E
Editor
Endarti