Vladimir Putin: Perundingan Damai Temui Jalan Buntu, Ukraina Langgar Kesepakatan Istanbul

AKURAT.CO, Negosiasi damai dengan Ukraina menemui jalan buntu, menurut pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (12/4). Ia juga menuduh Ukraina melanggar kesepakatan yang dicapai kedua negara selama perundingan di Istanbul pada Maret. Namun, orang nomor satu di Rusia itu menolak menjelaskan lebih detail soal tuduhannya itu.
Dilansir dari United Press International, selama perundingan damai tersebut, Rusia setuju untuk mengurangi aktivitas militer di sekitar Kyiv dan kota utara Chernihiv. Sementara itu, menjelang perundingan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersedia menyatakan netralitasnya dan kemungkinan kompromi atas wilayah yang dikuasai separatis di Donbas.
Namun, dalam pidato saat mengunjungi Kosmodrom Vostochny bersama Presiden Belarusia Alexander Lukaschenko pada Selasa (12/4), Putin mengatakan perang dengan Ukraina tak bisa dihindari.
"Tak ada pilihan, hanya masalah waktu kapan akan dimulai. Itu saja," ungkapnya.
Ia mengakui dan membenarkan serangan di Ukraina timur dengan dalih pasukan Rusia harus melindungi separatis di sana. Sejak perang dimulai, presiden Rusia ini bersikeras militernya sedang dalam misi 'penjaga perdamaian'.
"Yang kami lakukan adalah membantu orang dan menyelamatkan orang di satu sisi. Di sisi lain, kami hanya bertindak untuk memastikan keamanan Rusia sendiri," dalihnya, diwartakan The New York Times.
Menurutnya, tujuan utama perang tersebut adalah untuk membantu masyarakat di wilayah Donbas, Ukraina.
Sementara itu, menurut otoritas Ukraina pada Senin (11/4), ada lebih banyak kendaraan militer berkumpul di wilayah Rostov, Rusia, dan bergerak menuju Donbas, Ukraina. Mereka pun yakin pemerintah Rusia sedang merencanakan agresi baru.
Donbas terdiri dari Donetsk dan Luhansk, 2 wilayah yang dikuasai separatis yang telah memerangi pemerintah Ukraina selama hampir 1 dekade. Putin mendeklarasikan kemerdekaan kedua wilayah itu beberapa hari sebelum invasi dimulai.
"Dari sudut pandang saya, serangan besar di Timur ini sudah dimulai. Kami harus memahami kalau petisi mereka bukan dimulai pada 24 Februari ketika serangan udara dan ledakan pertama terjadi. Serangan besar secara de facto baru dimulai," kata Vadym Denysenko, penasihat menteri dalam negeri Ukraina. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Seharusnya Denny Indrayana Paham Penjelasan Jokowi Soal Ijazah Gibran, Kecuali Ada Dorongan Politik
- 3Kalender Jawa 25 September 2026: Benarkah Jumat Kliwon Hari Baik untuk Menikah?
- 4Live Streaming Timnas Indonesia vs Singapura Malam Ini, Cek Jam Tayang dan Linknya
- 5Indonesia vs Singapura Hari Ini Jam Berapa? Cek Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026!
- 6Prediksi Skor Indonesia vs Singapura Hari Ini 25 September 2026, Cek Susunan Pemain!
- 7Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 8Dinyatakan Bersalah di Mayoritas 115 Pelanggaran, Berapa Gelar Man City yang Terancam Dicopot?
- 9Ariawan: Pers Menyadarkan Publik tentang Peran MPR Menjaga Konstitusi dan Kebangsaan
- 10Menag Pimpin Salat Jenazah, Rano Karno Sampaikan Pesan Keluarga untuk Guruh Soekarnoputra



