Ibu Kota India Diselimuti Udara Beracun 2 Hari, Imbas Perayaan Diwali dan Pembakaran Jerami

AKURAT.CO Ibu kota India diselimuti udara beracun pada Sabtu (6/11). Tingkat polusinya masih sangat tinggi pada hari ke-2 usai orang-orang bergembira menentang larangan kembang api selama hari raya Hindu dan para petani di negara bagian dekatnya membakar jerami.
Dilansir dari Reuters, Indeks Kualitas Udara (AQI) New Delhi secara keseluruhan berada di angka 456 dari skala 500. Artinya, kondisi polusinya parah dan dapat memengaruhi kesehatan serta berdampak serius bagi mereka yang punya penyakit.
AQI mengukur konsentrasi partikel beracun PM2,5 yang menyebabkan penyakit kardiovaskular dan pernapasan, seperti kanker paru-paru, dalam 1 meter kubik udara.
Tak heran, sejumlah warganet mengeluh di media sosial tentang kondisi berbahaya di Delhi ini. Wilayah tersebut punya kualitas udara terburuk daripada semua ibu kota dunia. Lonjakan tahunannya seringkali terjadi di awal musim dingin.
"Polusi di Delhi bikin tidak betah tinggal di kota ini. Atau setidaknya tidak bisa tinggal lama-lama. Kami menghirup asap setiap hari. Media mengangkatnya dan para pemimpin mengatakan sedang mengatasinya. Ini akan hilang, tapi kembali lagi tahun depan," keluh warga Pratyush Singh di Twitter.
Udara beracun membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya di India. Situasi ini juga merugikan ekonomi di negara bagian utara dan di ibu kota berpenduduk 20 juta orang.
Tingginya polusi saat ini di Delhi disebabkan kembang api pada malam festival Diwali pada Kamis (4/11) dan dari pembakaran jerami di kawasan pertanian di sekitarnya, menurut sistem pemantauan SAFAR dari Kementerian Ilmu Bumi federal.
Para petani di negara bagian Punjab dan Haryana yang berdekatan dengan Delhi membakar sisa jerami setelah panen pada saat ini untuk mempersiapkan ladang mereka untuk panen berikutnya.
Situasi ini diperkirakan akan membaik di Delhi mulai Minggu (7/11) malam dan seterusnya. Namun, AQI akan tetap berada di kategori 'sangat buruk' yang berarti dapat memicu penyakit pernapasan jika terpapar dalam waktu lama, menurut pernyataan SAFAR di lamannya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor PSG vs Barcelona, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 4Polemik Ijazah Gibran Memanas, Hasan Nasbi Ungkap Sikap Pemerintah
- 5Kalender Jawa 19 Oktober 2026: Watak Weton Senin Wage Dikenal Jujur dan Tenang
- 6Prediksi Skor Como vs Man Utd 21 Oktober 2026: Setan Merah Terancam
- 7Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 8Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 9Greenpeace Bentangkan Spanduk di Bundaran HI, Pemerintah Hormati Kebebasan Berpendapat
- 10Polemik Ijazah Gibran, Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa




