FBI Rilis Bukti Baru Serangan 9/11, Ada 'Orang Dalam' Arab Saudi yang Bantu Teroris

AKURAT.CO Biro Investigasi Federal (FBI) merilis dokumen setebal 16 halaman terkait dukungan logistik yang diberikan kepada 2 pembajak Arab Saudi menjelang serangan 11 September 2001. Dokumen yang dirilis pada Sabtu (11/9) malam ini mengungkap adanya kontak antara para pembajak dan rekanan Saudi di Amerika Serikat (AS), tetapi tidak membuktikan bahwa pemerintah Saudi terlibat dalam plot tersebut.
Dilansir dari AFP, spekulasi keterlibatan pejabat ini beredar tak lama setelah serangan. Saat itu, terungkap bahwa 15 dari 19 penyerang adalah warga Saudi. Osama bin Laden, pemimpin al-Qaeda, juga berasal dari keluarga terkemuka di kerajaan itu.
Namun, pemerintah Saudi sudah lama membantah keterlibatan ini. Menurut Kedutaan Besar Saudi di Washington pada Rabu (8/9), mereka mendukung deklasifikasi lengkap semua catatan demi mengakhiri selamanya tuduhan tak berdasar terhadap kerajaan. Kedutaan menyatakan setiap tuduhan bahwa Arab Saudi terlibat itu tidak benar.
Catatan yang banyak disunting ini menggambarkan wawancara tahun 2015 dengan seseorang yang mengajukan permohonan kewarganegaraan AS. Bertahun-tahun sebelumnya, ia telah berulang kali melakukan kontak dengan warga negara Saudi. Menurut para penyidik, warga Saudi itu memberikan dukungan logistik yang signifikan kepada sejumlah pembajak.
Baca juga: 20 Tahun Berlalu, Peringatan 9/11 Tetap Banjir Air Mata saat Kenang 2.977 Korban
Identitas pria itu disunting di seluruh dokumen. Namun, ia dijelaskan telah bekerja di konsulat Arab Saudi di Los Angeles. Berdasarkan dokumen tersebut, salah satu kontaknya adalah seorang warga negara Arab Saudi bernama Omar al-Bayoumi.
Al-Bayoumi punya hubungan dengan pemerintah Saudi. Ia membantu 2 pembajak menemukan dan menyewa sebuah apartemen di San Diego, tak lama setelah mereka tiba di California Selatan.
Al-Bayoumi menyebut pertemuan dengan para pembajak, Nawaf al-Hazmi dan Khalid al-Mihdhar, di restoran pada Februari 2000 sebagai 'pertemuan kebetulan'. Selama wawancara, FBI pun melakukan berbagai taktik untuk memastikan apakah pernyataan itu akurat atau sudah diatur sebelumnya.
"Bantuan Bayoumi untuk Hazmi dan Mihdhar meliputi penerjemahan, perjalanan, penginapan, dan pembiayaan," bunyi dokumen tersebut.
Menurut istri sumber FBI itu, al-Bayoumi kerap membicarakan jihad.
Dokumen itu juga menyebut Fahad al-Thumairy. Pada saat itu, ia adalah seorang diplomat terakreditasi di konsulat Saudi di Los Angeles. Menurut para penyidik, ia memimpin faksi garis keras di masjidnya.
Analisis komunikasi pun mengidentifikasi panggilan telepon selama 7 menit pada tahun 1999 dari telepon al-Thumairy ke telepon rumah keluarga 2 bersaudara Arab Saudi yang menjadi calon tahanan di penjara Teluk Guantanamo.
Al-Bayoumi dan al-Thumairy sama-sama meninggalkan AS beberapa pekan sebelum serangan.
Perilisan dokumen ini disambut baik oleh kerabat korban sebagai langkah signifikan untuk menghubungkan serangan itu dengan Arab Saudi. Menurut Jim Kreindler, seorang pengacara untuk kerabat korban, temuan dan kesimpulan dalam penyelidikan FBI ini memvalidasi argumen soal tanggung jawab pemerintah Arab Saudi atas serangan 9/11.
"Dokumen ini, bersama bukti publik yang terkumpul hingga saat ini, memberikan cetak biru tentang bagaimana al-Qaeda beroperasi di AS dengan dukungan aktif yang diketahui dari Arab Saudi," tudingnya.
Itu termasuk para pejabat Arab Saudi bertukar telepon di antara mereka sendiri dan operasi al-Qaeda. Kemudian, mereka mengadakan 'pertemuan tak disengaja' dengan para pembajak sambil memberi mereka bantuan untuk menetap dan menemukan sekolah penerbangan.
AS sebelumnya telah menyelidiki sejumlah diplomat Arab Saudi dan lainnya dengan hubungan pemerintah Arab Saudi yang kenal para pembajak setelah mereka tiba di AS. Namun, laporan Komisi 9/11 menemukan tak ada bukti bahwa pemerintah Saudi, baik sebagai institusi maupun pejabat senior secara individual, mendanai serangan yang didalangi al-Qaeda.
Meski begitu, komisi mencatat kemungkinan bahwa badan amal yang disponsori pemerintah Saudi melakukannya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 4Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 5Diduga Singgung Status Pendatang Shin Tae-yong, Direktur Teknik Java United Lakukan Rasisme?
- 6Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 7Jose Mourinho Tunjukkan Gambar Pelanggaran, Babak Baru Perang Real Madrid dan Wasit?
- 8BPJPH Apresiasi PT Anindya Wiraputra Siap Verifikasi Produk Halal di Luar Negeri
- 9Prabowo Perkuat Industri Tekstil, Lindungi Jutaan Pekerja dan Produk Nasional
- 10Utang BLBI Warisan 98 Lunas, Menkeu: Presiden Prabowo Sambut Baik Penyelesaian Ini




