Pimpin Negara di Usia 34 Tahun, Ini 5 Fakta Menarik Presiden Suriah Bashar al-Assad

AKURAT.CO, Beberapa waktu yang lalu, media sempat ramai mengulas 'pergunjingan' yang dilakukan oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad (54) dan sekutunya, Presiden Rusia Vladimir Putin. Mengutip kisah Saulus, keduanya bahkan kepergok menyebut kemungkinan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump akan 'lebih benar' jika melewati jalan menuju Damaskus.
Namun, terlepas dari aksi menggosip tersebut, sebagai presiden Suriah, Bashar sebenarnya adalah salah satu pemimpin dunia yang rajin diliput oleh media. Bahkan, karena carut-marut politik serta perang saudara yang berkepanjangan, Bashar kerap dicap media sebagai salah satu presiden paling kontroversial di dunia.
Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO pada Senin (2/3) menghimpun 5 fakta menarik Presiden Suriah, Bashar Hafez al-Assad.
1. Sempat berkecimpung di dunia medis hingga tidak tertarik dengan politik
Lahir pada 11 September 1965, Bashar adalah putra kedua dari mantan Presiden Suriah Hafez al-Assad, dan istrinya, Anisa. Namun, berbagai sumber menyebutkan bagaimana Bashar tumbuh dengan karakter yang tenang, pendiam, serta sangat berbeda dibandingkan dengan penerus ayahnya, Bassel al-Assad.
Tidak tertarik dengan politik atau militer, Bashar pun diketahui memilih belajar untuk menjadi dokter mata di Universitas Damaskus. Setelah lulus pada tahun 1988, Bashar bahkan sempat bekerja sebagai dokter di rumah sakit militer di Damaskus. Tidak hanya itu, Bashar juga diketahui sempat mengambil pendidikan pascasarjana untuk ilmu Oftalmologi di Western Eye Hospital, Inggris.
2. Dipersiapkan menjadi presiden setelah Bassel tewas
Tidak bisa dimungkiri jika tewasnya Bassel karena kecelakaan langsung mengubah jalan hidup Bashar. Pasalnya, sebelum meninggal, Bassel sebenarnya sudah digadang-gadang akan menjadi calon penerus yang akan menggantikan posisi Hafez al-Assad sebagai presiden.
Namun, setelah Bassel tewas pada 1994 silam, Bashar langsung dipanggil kembali ke Suriah untuk mengambil peran saudara tertuanya tersebut. Setidaknya selama 6,5 tahun, Bashar pun menjalani pelatihan militer hingga pembelajaran politik demi bisa meneruskan posisi ayahnya.
3. Parlemen Suriah rela ganti Konstitusi demi Bashar
Setelah kematian Hafez al-Assad pada 10 Juni 2000 silam, parlemen Suriah dilaporkan langsung mengubah Konstitusi untuk menurunkan usia minimum calon presiden dari 40 menjadi 34. Keputusan tersebut diambil tidak lain agar Bashar yang kala itu berusia 34 tahun bisa naik takhta.
Pada 10 Juli 2000, Bashar akhirnya diangkat menjadi presiden setelah mendapatkan dukungan sekitar 99,7 persen suara dari parlemen Suriah. Sejalan dengan perannya sebagai presiden Suriah, Bashar juga ditunjuk sebagai panglima Angkatan Bersenjata Suriah hingga Sekretaris Regional faksi dominasi Suriah, Partai Ba'ath.
4. Presiden penuh kontroversi
Bukan rahasia lagi bagaimana predikat 'presiden kontroversial' yang disematkan media untuk Bashar tidak terlepas dari Perang Suriah yang hingga kini masih berlangsung. Bahkan, sejak konflik dimulai dari protes reformasi pada 2011 silam, PBB mencatat jumlah korban tewas setidaknya mencapai hingga lebih dari 400 ribu orang, termasuk para politisi oposisi.
Tidak hanya itu, berbagai organisasi internasional, termasuk kelompok hak asasi manusia menuduh bahwa Bashar telah melakukan berbagai kejahatan perang, termasuk melancarkan serangan gas kimia kepada warga. Bahkan, dalam hal ini, intelijen AS, pihak oposisi, hingga PBB mengklaim bahwa Bashar telah sengaja bekerja sama dengan Korea Utara untuk mengembangkan senjata kimia di Suriah.
5. Istrinya Asma Assad kerap digambarkan negatif
Oleh media Barat, istri Bashar, Asma Assad rupanya juga kerap digambarkan negatif. Media Inggris The Guardian bahkan sempat melaporkan bagaimana Asma justru secara konsisten menghabiskan puluhan ribu dolar untuk berbelanja perhiasan, pakaian, hingga furnitur.
Tidak hanya itu, profil Asma yang digambarkan sebagai 'Mawar di Gurun' oleh situs Vogue, juga pernah mendapatkan kritikan keras hingga akhirnya dicabut. Dalam hal ini, media AS, The Hill bahkan sempat mengklaim bahwa gambaran 'muluk-muluk' Asma tersebut hanyalah 'produk berbayar' yang dilakukan oleh rezim Suriah.
Pada 2019 lalu, beberapa media, termasuk National Public Radio (NPR) juga kedapatan menyindir bagaimana sembuhnya Asma dari penyakit kanker payudaranya berbanding terbalik dengan puluhan rumah sakit Suriah yang porak-poranda karena dibom.
Berbicara tentang Bashar dan Perang Suriah memang seperti tidak ada ujungnya, terlebih sudah ada campur tangan berbagai pihak asing seperti Turki, AS, Arab Saudi, hingga Rusia. Namun, apakah menurutmu sebagai presiden, Bashar adalah pemimpin yang baik untuk warga Suriah?[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





