Akurat Logo

BBM Langka di Bali, DPR: Dampaknya Bisa Merembet ke Sektor Pariwisata

Putri Dinda Permata Sari | 14 Oktober 2026, 19:13 WIB
BBM Langka di Bali, DPR: Dampaknya Bisa Merembet ke Sektor Pariwisata
Ketua DPR RI, Puan Maharani.

AKURAT.CO Ketua DPR RI, Puan Maharani, meminta Pertamina bersama kementerian terkait segera menambah pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Bali.

Langkah tersebut diperlukan menyusul kelangkaan BBM yang membuat warga harus mengantre hingga berjam-jam di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Puan menilai, penanganan kelangkaan BBM tidak cukup hanya dengan menambah pasokan. Pemerintah dan Pertamina juga harus memastikan distribusi berjalan lancar hingga ke SPBU yang mengalami kekosongan agar masyarakat dapat kembali memperoleh BBM secara normal.

“Kesulitan warga memperoleh BBM di sejumlah SPBU di Bali perlu segera diselesaikan melalui penguatan distribusi sampai titik pelayanan. Pemerintah dan Pertamina perlu memastikan adanya tambahan pasokan BBM di Bali,” kata Puan, Rabu (14/10/2026).

Kelangkaan BBM dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Bali, mulai dari Denpasar, Badung, Klungkung, Buleleng, hingga Bangli. Kondisi tersebut memicu antrean kendaraan yang mengular hingga satu kilometer di sejumlah SPBU.

Bahkan, seorang warga perempuan di Badung dilaporkan pingsan setelah mengantre BBM selama berjam-jam. Kondisi ini menjadi perhatian karena keterbatasan pasokan mulai mengganggu aktivitas masyarakat.

Pertamina sebelumnya mengungkapkan bahwa salah satu penyebab kelangkaan BBM di Bali adalah kendala bongkar muat kapal tanker. Pertamina pun menyatakan akan menyiapkan tambahan pasokan untuk mengatasi kondisi tersebut.

Menanggapi hal itu, Puan mengingatkan agar tambahan pasokan yang tiba di Bali segera disalurkan ke SPBU, terutama di wilayah yang masih mengalami kekosongan dan antrean panjang.

“Tambahan pasokan yang tiba juga perlu diikuti kepastian pengiriman ke SPBU, terutama wilayah yang masih mengalami kekosongan BBM dan terjadi antrean panjang,” tuturnya.

Puan juga mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Pertamina memeriksa seluruh tahapan distribusi, mulai dari kedatangan kapal tanker, proses pembongkaran, persediaan di terminal BBM, hingga pengiriman ke penyalur.

Menurutnya, pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengidentifikasi hambatan yang masih terjadi sekaligus menentukan langkah percepatan pemulihan pelayanan.

“Pemeriksaan harus memperjelas hambatan yang masih terjadi dan keputusan yang diperlukan untuk mempercepat pelayanan kembali normal. Warga membutuhkan kepastian BBM dapat diperoleh di tempat pelayanan. Setiap tambahan pasokan perlu segera diterjemahkan menjadi pengiriman yang sesuai kebutuhan dan pemulihan SPBU yang dapat dirasakan masyarakat,” imbuhnya.

Selain memastikan kelancaran distribusi, Puan meminta Pertamina memetakan kebutuhan BBM berdasarkan jenis bahan bakar dan wilayah pelayanan.

SPBU yang berulang kali mengalami kekosongan perlu mendapat prioritas agar pengiriman berikutnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga pasokan lanjutan tersedia.

“SPBU yang mengalami kekosongan berulang harus memperoleh perhatian khusus agar pengiriman berikutnya mampu menutup kebutuhan sampai pasokan lanjutan tersedia,” jelas Puan.

Ia juga meminta pemerintah menetapkan target pemulihan yang terukur. Evaluasi, kata dia, perlu mencakup jumlah SPBU yang kembali beroperasi normal, durasi kekosongan BBM, kecukupan pasokan di antara jadwal pengiriman, hingga perkembangan waktu antrean kendaraan.

“Evaluasi perlu melihat jumlah SPBU yang kembali melayani, lamanya kekosongan, kecukupan pasokan antarjadwal pengiriman, dan perkembangan waktu antrean. Informasi tersebut menjadi dasar penyesuaian operasi setiap hari,” paparnya.

Selama proses pemulihan berlangsung, Puan menekankan pentingnya menjaga ketersediaan energi untuk pelayanan darurat dan aktivitas masyarakat yang bersifat penting.

Pemerintah perlu memperhitungkan kebutuhan fasilitas kesehatan, angkutan umum, serta distribusi kebutuhan pokok sesuai dengan jenis BBM yang digunakan.

“Penanganan harus memperhitungkan kebutuhan fasilitas kesehatan, angkutan umum, dan distribusi kebutuhan pokok sesuai jenis BBM yang digunakan,” ungkapnya.

Baca Juga: Yolla Yuliana Ikuti Kursus Pelatih FIVB, Ancang-ancang Sebelum Gantung Sepatu?

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.